Kita dan ..

Bismillah,

Tugas kali ini membuat saya bingung..hehehe

Soalnya harus buat surat cinta untuk suami.

Ya coba dulu ya.

Tugas pertama: Surat Cinta untuk Suami

 

Dear suamiku tersayang,

Terimakasih untuk hari hari yang kita lalui bersama.

Aa telah menjadi ayah yang sangat baik untuk anak-anak.

Lebih sabar dari saya menghadapi anak-anak.

Aa juga telah menjadi suami yang sangat baik.

Banyak membantu pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh istri.

Terimakasih sudah bersedia membantu.

Aa pun sabar terhadap sikap sikap saya yang selama ini sering tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Hanya satu pintaku kalo saya ada salah tolong tegur secara halus, karena saya tidak suka dengan teguran langsung dengan nada memuncak.

Meskipun aa harus memperingatkan saya berkali-kali, tolong maklumi ya, jangan bosan.

karena perjalanan ini bukan sehari dua hari, masih banyak tantangan ke depan, apalagi dengan rencana kita yang akan menghomeschoolingkan anak anak.

Kalo visi kita masih berbelok belok, maka kita harus punya satu visi.

Jadi kapan mau ngobrol soal visi misi?

Dari,

istrimu

I love you so much.

dewi.

Beres

Tugas no2 Potensi anak anak

Muhammad:

Anak yang sangat dinamis, tidak bisa diam, selalu ingin tau tentang hal di sekitarnya. Anaknya kemauannnya kuat jika sudah fokus pada satu hal, tidak mau berpaling ke hal yang lain. Menyukai dunia perteknikkan.

Maryam:

Sangat feminin,penurut, suka membantu dan rendah hati. Suka mengalah terhadap kakaknya.  Menyukai kegiatan memasak.

Tugas 3 Cari potensi diri di rumah

Mempunyai anak-anak yang dinamis dan aktif, membuat saya seharusnya terpacu untuk membuat kegiatan yg menarik untuk anak anak. Didukung dengan background saya yang pernah di PAS ITB, apalagi sebagai pembuat acara anak anak lagi, seharusnya mudah buat saya untuk berkreasi untuk anak. Saya harus menyetop apapun apabila bermain dengan anak, soalnya suka ada aja pekerjaan rumah yang belum beres.

Mempunyai suami seorang pengusaha seharusnya membuat saya bisa lebih berperan dalam rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga lebih terhandle Dan Al Quran bisa saya raih kembali.

Tugas 4 Potensi diri di lingkungan terdekat

Pindah ke rancamanyar dengan kondisi lingkungan setempat yang ramah, seharusnya membuat saya bisa berbaur dengan leluasa. Dan bisa menyediakan lapangan pekerjaan untuk sekitar terutama dalam bisnis kurma coklat. Juga ke depannya mungkin bisa mnyediakan tempat tahfidh dan tahsin gratis.

 

 

 

 

 

Iklan

Bismillah..

Tentong..

Jam sudah lewat dari jam 12 malam.

YUP saya kerjain ini malam malam.

Mumpung bisa.hehe

Oke kali ini saya akan share KPI saya atau key performance indicator sebagai seorang istri, ibu dan individu yang saya buat berdasarkan hasil diskusi degan suami dan hasil pengamatan saya dengan anak berdasarkan kebutuhan mereka.

KPI Individu

  1. Tilawah minimal 1 juz sehari.
  2. Murajaah minimal 1 halaman sehari.
  3. Solat di awal waktu maksimal setengah jam setelah adzan.
  4. Baca surat Al Waqiah pagi pagi dan Al Mulk Malam hari
  5. Berdoa minimal satu kali saat waktu mustajab semisal saat adzan berkumandang.
  6. Tasmi  setiap hari.
  7. Datang ke majelis ilmu minimal 2minggu sekali
  8. Baca buku minimal 1halaman setiap hari.
  9. Dhuha minimal 2hari sekali
  10. Tahajud minimal 2hari sekali
  11. Olahraga minimal 1 minggu sekali seperti jalan kaki
  12. Tidak berlebihan dalam makan, makan seperlunya
  13. Merawat badan setiap hari
  14. Witir tiap hari

KPI Ibu

  1. Membacakan cerita untuk anak setiap hari
  2. Mengajak anak bermain di luar rumah setiap hari
  3. Memeluk dan mencium anak setiap hari
  4. Menahan emosi saat anak bertengkar atau melakukan hal yang mengesalkan orang tua (ingat hadis La taghdhob walakal jannah.. jangan marah maka bagimu surga)
  5. Mengajarkan anak menggambar dan menulis setiap hari
  6. Memandikan anak-anak pagi dan sore
  7. Menyediakan kebutuhan makan anak
  8. Mengajak anak tamasya setiap bulan
  9. Memberikan vitamin setiap hari
  10. Mencatat kegiatan harian anak di buku fortopolio anak

 

KPI Istri

1. Memasak setiap hari dengan mencari resep yang enak dicookpad

2. Manajemen waktu:

Setelah subuh:

  • Bereskan tempat tidur dan ruangan
  • Membuatkan susu untuk anak dan kopi atau susu untuk suami
  • Memasak nasi
  • Menyapu dan mengepel
  • Mencuci baju
  • Mencuci piring
  • Memasak pagi dan menyuapi anak
  • Membuat air panas(air teh dan air untuk mandi anak anak) dan memandikan anak
  • Membeli sayuran dan lauknya
  • Memasak makanan yang telah dibumbui semalam.

Saat anak tidur siang:

  • Menjemur
  • Menyetrika lalu
  • Ikut Istirahat

Saat Malam:

  • Membalik balikkan baju yang akan disetrika
  • Merapihkan barang barang pada tempatnya

3. Menyimpan barang pada tempatnya yang sebelumnua telah dilabeli

4. Memenuhi kebutuhan suami baik pijat maupun bilogis.

 

 

 

 

 

 

 

Bismillah..

 

Walaupun telat mengerjakan PRnya tidak mengapa.

PR pertama dari materikulasi institut ibu profesional ini membuat saya menjadi feedback kembali kepada goal atau tujuan fokus utama saya.

Kalau ditanya apa yang menjadi jurusan ilmu yang akan saya tekuni, maka saya akan jawab “AL QURAN”.

Walaupun saya saat ini interaksinya dengan  Al Quran drop saat sudah memiliki anak, mungkin masih masa penyesuaian dengan tugas tugas rumah tangga. Tapi saya yakin ke depannya saya pasti bisa.

Alasan terkuat kenapa saya akan menekuni Al Quran, bukan yang lain. Karena saya merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap Al Quran. Saya merasa harus mempertahankan apa yang telah saya raih yaitu dalam proses penghafalan Al Quran. Saya malu dengan Allah yang telah memberi saya karunia berlimpah dalam hal ini tapi saya masih menyia-nyiakannya. Saya merasa dosa besar jika saya membiarkan Al Quran.

Adapun strategi yang harus saya lakukan:

  1. Tilawah rutin

Tilawah merupakan hal yang tidak dapat disingkirkan dari proses penjagaan al Quran. Tapi akhir akhir ini banyak sekali hambatan, terutama yang berasal dari diri saya. Saya jadi sering urung uringan karena ketidakbisaan saya untuk memanajemen waktu yang ada, sehingga apa yang diharapkan jauh dari kenyataan yang ada. Semoga Allah menjaga tangan dan hati saya dari emosi yang meledak, terutama bila dilampiaskan kepada yang lain khususnya anak. 😭

Mungkin saya akan mulai sedikit demi sedikiy dulu.  15menit setelah solat fardu.

2. Murajaah.

Hal ini juga harus saya perhatikan kembali. Betapa banyak waktu saya terbuang percuma, tidak ada esensi dzikrullah, apalagi murajaah. Ya Allah.. sedih.. 😣😣😣

waktu paling efektif untuk murajaah adalah menjelang malam dan sebelum bangun subuh karena saat itu anak anak sedang tidur. Semoga Allah mudahkan..

3. Halaqaah

Sudah lama sejak anak kedua lahir.  Saya jarang sekali hadir dalam majelis ilmu. Saya selalu merasa percuma untuk datang ke sana karena  saya jarang merasa fokus. Jangankan mendengarkan materi, yang ada kesibukan untuk mengejar anak ke sana dan kesini, terutama anak pertama. Karena anak pertama ini sangat kinestetis sekali.

Saya masih mencari solusi agar saya bisa hadir di majelis ilmu bersama anak anak. Mungkin saat ke sana, anak saya,kakang, perlu teman bermain atau saya bawakan mainan dari rumah ya seperti pensil gambar dan buku gambar.

3. Tasmi (mendengarkan hafalan orang lain)

Salah satu hal wajib yang perlu  diagendakan oleh orang yg ingin tetap berinteraksi dengan Al Quran adalah tasmi. Tasmi termudah tanpa keluar rumah adalah mendengarkan hafalan Al Quran lewat murattal ataupun video. Selain untuk menguatkan hafalan juga memotivasi untuk selalu dekat dengan Al Quran. Mungki  akan dimulai dengan memperdengarkan murattal setiap hari.

4. Banyak membaca buku terkait dengan Al Quran

Jikalau lingkungan tidak mendukung, misal orang terdekat jauh dari Al Quran. Tidak ada kata tidak untuk tidak menambah ilmu agar lebih semangat.

5. Sabaar..

Mendekatkan diri degan Al Quran bukanlah sebuah prose yang mudah. Betapa sering diri drop akibat ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga emosi sering meluap. Apakah itu seorang Ahlus Quran? Jauhhhh.

Betapa diri sering merasa down saat mau mendekatkan diri pada Al Quran, tapi seringkali banyak omogan nyinyir dari orang terdekat. Baca Al Quran tapi kok akhlaknya masih jauh Al Quran. 😭😭

Sedih saya. Ya bertahap toh. Karena akhlak adalah pencapaian paling tinggi dari sebuah keimanan.

Berbagai benturan itu sering kali menghambat saya membuat saya depresi sehingga seringkali saya tidak percaya diri untuk melanjutkan proses ini.

6. Berdoa

Hal ini yang paling penting kata saya. Apalah usaha saya kalau tidak dibarengi dengan doa. Doa agar niat saya selalu lurus tidak melenceng. Doa agar Allah senantiasa menjaga hafalan saya. Doa agar Allah senantiasa membaguskan akhlak saya. Doa agar Allah senantiasa selalu berinteraksi dengan Al Quran.

Mungkin pencapaian saya saat ini terkait Al Quran berada dalam masa turun, turun sekali.

Saya harus bisa memanajemen lagi waktu yang ada.

Jadi sikap yang harus saya perbaiki terkait proses interaksi dengan Al Quran

  1. Sabaar lagi, harus sabar untuk berlama lama dengan Al Quran
  2. Ikhlas, karena hanya Allah semata
  3. Optimis, apapun nyinyiran kata orang ataupun aktivitas yang sibuk jadikan batu loncatan untuk lebih baik lagi.
  4. Menjaga wudhu, semoga bisa.
  5. Udah dulu aja..

 

Ya Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘alaa diinik.

Ya Muqallibal Quluun, Tsabbit Qalbi ‘alaa hifdzil kitaabikal kariim.

AAMIIN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kulwap. Wa Grup Hebat

Materi Pokok#5

🎯Konsep Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun🎯

Subject Matter Expert (SME): Ust. Harry Santosa
___________________________

Malam ini kita akan membahas konsep pendidikan berbasis potensi fitrah dan akhlak, untuk periode pre aqil baligh (usia 8-10 tahun). Tentu tahap 8-10 ini akan lebih mudah kita jalani apabila tahap 0-7, pertumbuhan fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar anak anak kita berkembang secara utuh.

Baik teori psikologi perkembangan anak, maupun perjalanan sirah Nabwiyah, melihat usia 8-10 atau ada juga yg menulis 7-10 merupakan penentu kesiapan tahap latih di usia 11-14 menuju aqil baligh.

Secara syariah, fitrah keimanan, ditandai dengan perintah sholat yg dimulai ketika usia 7 tahun, dan batas penyadarannya sampai di usia 10 tahun. Bila di usia 10 tahun masih belum tumbuh fitrah keimanannya dgn sholat sbg wujud simbolnya maka boleh dipukul. Fase keimanan Rububiyatullah (kholiqon, roziqon, malikan), bergeser meningkat ke Mulkiyatullah (waliyan dan hakiman). Wujudnya adalah perintah sholat.

Ketika ego sentrisnya terpuaskan di usia 0-6 tahun, maka di usia 7 tahun mulai melebar kepada sosial dan tanggungjawab moral. Maka di saat yg sama, anak2 harus dibangkitkan fitrah keimanannya pd aspek ketaatan pd hukum (hakiman) dan ketaatan/kecintaan tunggal (waliyan).

Secara fitrah perkembangan, usia 7 tahun, anak2 mulai mengenal nilai2 sosial di sekitarnya. Maka mereka mulai mengenal Allah sebagai pembuat hukum dan Zat yg harus ditaati secara totalitas. Di saat yg sama, pada usia 7 tahun, fitrah belajar dan fitrah bakat juga mulai dibangkitkan dengan beragam aktifitas yg menjadi minat dan passionnya. Pada tahap ini perbanyak aktifitas belajar di masyarakat dan aktifitas yg sesuai kepribadiannya. Agar di usia 10 tahun, ketiga fitrah ini (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat) sudah matang untuk dilatih secara serius.

Usia 10 adalah batas evaluasi apakah sdh kenal Allah dengan baik (sholat dgn kesadaran) dan kenal diri dengan baik (ku tahu yg ku mau). Para Pelatih FIFA, juga menjadikan usia 10 tahun sebagai batas dari latihan “bermain-main saja walau berbakat” menjadi latihan “teknik dan muscle memory”. Di Jerman penjurusan sekolah dimulai ketika kelas 4 SD, atau sekitar usia 10 tahun.

Rasulullah SAW, mulai magang berdagang bersama pamannya ke Syams sekitar usia 10  atau 11 tahun.

Abu Bakar ra, mengatakan ada dua hal yang paling utama untuk dikenal, yaitu kenal Allah dan kenal diri. Menurut saya kenal Allah (fitrah keimanan) dan kenal diri (fitrah bakat) sebaiknya sudah selesai di usia 10 tahun.

=====================

🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁

Materi Pokok#4

*Tekhnik Pendidikan Pre Aqil Baligh 0-7thn*

Subject Matter Expert (SME):

*Bunda Septi Peni Wulandani*

Founder IIP sekaligus praktisi HE sejak 1996

🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁

Pada anak usia 0-7 tahun, anak dibuat kaya wawasan. Memperkaya wawasan berbeda dengan menjejalkan (outside in).

Memperkaya wawasan dalam perspektif pendidikan berbasis fitrah adalah dengan keyakinan bahwa tiap anak sudah memiliki fitrah belajar, konsep-konsep dasar berpikir, sehingga mampu menalar. Tugas kita sebagai orang tua adalah menyadarkan anak-anak dengan menginspirasi, menunjukkan, mengencourage dstnya, sehingga mereka akan belajar dengan sendirinya. Istilahnya kerennya, “dont too much teaching, but more learning”.

Usia 0-2 tahun adalah masa anak-anak mengikat bonding fisik dan psikis dengan kedua orangtuanya, terutama ibu yang menyusui. Kita boleh menganggap anak-anak sebagai seorang bayi “hanya” di usia ini (0-2 tahun). Mengapa ditekankan “hanya” karena banyak diantara kita memperlakukan anak-anak di bawah 5 tahun (balita) sebagai bayi, contohnya : semua serba dibantu.

Usia 0-2 tahun hak anak adalah mendapatkan makanan terbaik untuk fisiknya yaitu ASI, maka penuhilah secara tuntas. Sambil menyusui selalu masukkan harapan anda dari lubuk hati yang terdalam.

Ayah jangan lewatkan moment ini, ikutlah berpartisipasi aktif bermain dengan anak-anak usia 0-2 tahun. Berikan sentuhan kasih sayang ke anak, ajaklah mereka bicara menjelang tidur, tanamkan value keluarga anda kepada anak-anak sedini mungkin.

Memasuki usia 2-7 tahun (thufulah) saatnya kita menanamkan ketauhidan dengan sangat kuat. Di usia inilah (2-7th) anak-anak sedang membangun pola, maka jangan sampai salah. Berikan teladan yang benar. Hati-hati jangan sampai anak-anak gagap value di usia ini. Antara apa yang anda katakan dengan apa yang mereka lihat. Apabila anak-anak usia 2-7 th melakukan kesalahan, tidak bisa kita biarkan, harus segera dibetulkan saat itu juga, karena itu masa pembentukan pola. Di usia ini orang tua harus tegas, karena itu masa pembentukan, semakin bertambah usia makin longgar.

Panduan teknis untuk mengembangkan fitrah anak di usia 0-7 tahun yaitu:

a. Fitrah Keimanan : mulailah mengenal Allah s.w.t dan menikmati segala kebesarannya

b. Fitrah Belajar : kuatkanlah bahasa ibu anak-anak serta explored isi alam ini dengan kegiatan bermain bersama di alam

c. Fitrah Bakat : tour de talent, gunakan waktu anda untuk melihat segala macam bakat yg diberikan Allah ke setiap orang, sehingga fitur unik ini digunakan untuk menjalankan misi hidupnya. Explore bakat anak.

Salah satu contoh dengan mengajak anak untuk melihat keanekaragaman bakat/profesi yang ada di muka bumi ini, agar mereka kaya wawasan, sehingga kaya akan mimpinya untuk masa depan

d. Fitrah Perkembangan: Gunakanlah pola rasul dlm menguatkan fisik anak, mulai pola makan, pola tidur, pola OR dll

======================
*Membangun Pola*
1⃣ Bunda Lani (Kendari)
dan Ayah Lucky (Malang)

Assalamu ‘alaikum.. Disebutkan bahwa usia 2-7 th sdg membentuk pola, jd kalau berbuat salah tidak boleh didiamkan. Supaya tdk gagap nilai. Namun bukankah pd usia ini anak blm memiliki kewajiban moral?
1. Mohon penjelasan bagaimana batasan dan bgmn penerapannya?
2. Kesalahan apa yg hrs kita tindaki dan kita toleransi?
3. Pola seperti apa yg dibangun (diutamakan lbh dahulu) terutama umur 2-3 tahun yg masih transisi dan komunikasi jg masih belum komunikatif?
1⃣ wa’akaykumsalam bunda lani di kendari dan ayah lucky di malang. Anak-anak usia 2-7 th itu yang kami lakukan adalah penguatan IMAN dan AKHLAK. Dari sisi IMAN kami menguatkan rasa cinta dengan RabbNya yang sudah mereka bawa sejak lahir. Sedangkan di urusan AKHLAK kami memberikan teladan, Rasulullah dan kisah orang-orang di muka bumi ini yang selalu memiliki moral character yg  sama. Sehingga anak-anak akan makin memperkuat pola yg mereka miliki ttg konsep IMAN dan AKHLAK. Memang benar mereka belum memiliki kewajiban moral, tapi anak-anak ini sedang menanamkan konsep moral yg baik dan benar. Sehingga tidak boleh salah, harus konsisten.

Kesalahan yg berkaitan dg iman, value dan moral character harus segera diluruskan. 

Sedangkan kesalahan yg berkaitan dg proses belajar masih bisa ditoleransi. Shg muncul  kalimat
*It’s ok to make mistakes as long as I learn from my mistakes” ✅

*Bullying*
2⃣ Bunda Neneng (Bandung) dan Bunda Ninis (Gresik)

Di lingkungan komplek ada anak usia 4/5 thn an senaaang pisan ngebully, ngejekin misal pas alula (2 thn) lagi anteng diem diteriakin ” Lula jelek kayak bebek” nah kadang saya yg panas.
——————-
Bismillah, ibu septi perkenalkan sy ibu dr seorang putra  usia 2 th 9 bln. Kami tinggal di kampung dg banyak anak kecil dan latar belakang orangtua yg berbeda2. Ketika anak2 bermain bersama sering ada kejadian memukul dan dipukul. Akhirnya nangis. Sy berusaha mengajarkan saling meminta maaf, dan melanjutkan main lagi. Tapi ada jg ortu yg kekeuh harus minta balas memukul. Biar lega katanya. Terlepas dr kejadian ini, lama kelamaan sy mendapati anak sy nangis gulung2, ketika ndak cocoki keinginanya. Bahkan kok kadang tiba tiba jail ke org lain.

1. Apa yg perlu saya lakukan? sejauh ini saya baru gendong dede menjauh dan tidak bergaul dengan anak yg suka membuli.
2. Bagaimana sy harus menanggapi anak dan lingkungan sy?
3. Fitrah apa yg harus di “inside out” kan diusia ini shg nti bisa lbh baik di usia berikutnya?

Terima kasih bu septi 🙏

image

image

Bunda Neneng dan bunda Ninis, bully dan membully ini sebenarnya berkaitan dengan “rasa percaya diri anak” dan “moral character yang tertanam dalam dirinya. Sehingga untuk menghadapi anak yg membully anak lain, bunda harus bisa
1⃣menerima kondisi anak saat ini, tidak menolaknya shg jengkel.
2⃣ memaafkan dan mengajaknya berdialog ttg apa yg mereka lakukan
3⃣ berikan peran untuk berbuat baik
4⃣ lupakan kesalahannya, jangan diungkit-ungkit.

Sedangkan untuk anak yg dibully, jangan buru-buru ditolong, berikan kesempatan untuk menyelesaikan urusannya sendiri, sambil setiap hari kita ajak berdialog. Unt melihat progressnya seperti apa. Kemudian naikkan rasa percaya diri anak. Agar dia mampu membalas dg satu alasan membela kebemaran terlebih dahulu. Setelah itu masukkan value, apabila kamu dalam posisi kuat, bisa membalas dan akhirnya kau maafkan, maka itu kemuliaan yg tiada terkira.

Semua fitrah penting untuk diatimulus di semua usia

*Adab, Aturan, Disiplin*
3⃣ Bunda Inggil (Bekasi), bunda Irfa, (Citayam, Bogor), bunda Arie (Bandung)

Di usia 2-7 tahun orangtua harus tegas karena merupakan masa pembentukan. Tegas disini bagaimana ya, kami di rumah punya banyak peraturan dan adab. Seperti aturan saat main di luar rumah, adab bertamu, adab makan, aturan penggunaan gadget, aturan jajan dan perjanjian2 lainnya. Di sisi lain saya khawatir anak jadi tertekan secara mental.
—————
Anak saya usia 5 th . Dr awal kami sdh utk pendidikan kami sdh tdk mengikuti skolah formal. Sejauh ini mmg sy mlihat nya sdh cukup mandiri dan percaya diri.
——————
Assalamu’alaikum bu septi.
Di usia 2-7 tahun anak sudah mulai dikenalkan dg adab dan akhlak, seperti makan dan minum sambil duduk. Pada usia 4 tahun biasanya anak mengerti tapi belum bisa konsisten melakukannya.

1. Bagaimana mensiasati agar adab dan peraturan yang ada menjadi habbits baik yang ringan dijalankan? Jazakumullah 🙏🏽
2. Utk menerapkan  disiplin waktu pada anak usia tsb bagaimana ya bun?
3. Apakah pengajaran adab dan akhlak di usia ini harus benar2 ditegakkan (harus benar2 duduk saat makan) atau pemberian pengertian dengan sedikit kelonggaran.
Terima kasih

Bunda inggil, bunda Irfa dan bunda Arie,

Tegas disini adalah *KOMITMEN* pada kesepakatan yg sudah diambil bersama anak. selanjutnya *KONSISTEN* untuk bisa dilakukan setiap hari. Apabila melewati kedua hal tsb maka jarus sanggup menerima *KONSEKUENSI*

Sehingga jangan terlqlu banyak diberikan peraturan yg dibuat oleh orangtuanya. Melainkan harus melatih anak  memperbanyak aturan yg dibuat dirinya sendiri. Belajar berkomitmen dg hal tsb

*STIMULUS ➡ THINKING ➡RESPON*

Ini prinsipnya. Tapi jangan terlalu saklek. Misal untuk adab makan, intinya sambil duduk, pakai tangan kanan, baca doa. Maka buatlah suasananya semeriah mungkin shg anak suka. Boleh pakai daun, boleh pakai piring, boleh botram dll. ✅

Sepertinya masih belum cukup yah waktu yang singkat ini untuk membahas tema kita malam ini. Mohon maaf karena keterbatasan waktu tidak semua pertanyaan bisa didiskusikan di grup.

Terima kasih bu septi untuk waktunya berbagi ilmu bersama kami. Semoga Allah berikan balasan yang lebih baik.

Terima kasih juga untuk semua atensi dan partisipasi ayah bunda di kulwap kita kali.

Dan terima kepada para koordinator yang sudah merelay kulwap ini ke wilayahnya.

Semoga ilmu yang kita peroleh dalam diskusi kita ini bermanfaat dan bisa diamalkan.

Kita tutup diskusi kita malam kni dgn doa kafaratul majlis.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

(Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.) Kecuali telah diampuni baginya apa yang ada pada majlis tersebut. ” (HR Tirmidzi)

Mohon maaf apabila ada salah dan khilaf. 🙏🏻😊🙏🏻

Wassalamualaikum wr wb…

Arsip Homeschooling

📝 Resume Bincang santai G-Nasional HEbAT Community

🔹Oleh: Ayah Aby (Tim Jabar Raya)
👤Narsum: Ust.Adriano Rusfi
Ahad, 10Juli 2016

——————————

INDIVIDUASI SEBELUM SOSIALISASI
By: Ust. Adriano Rusfi

Kemarin adik saya mengeluh. Ia seorang doktor geoscience lulusan Jepang dan pakar kebencanaan geologis. Ia kecewa, bahwa setelah berkali-kali mensosialisasikan dan mengajarkan perilaku waspada bencana di sejumlah daerah, ternyata perubahan yang diharapkan jauh panggang dari api.

Ternyata, setiap kali bencana datang maka perilaku lama kambuh kembali : tak kunjung waspada, panik dan munculnya tindakan-tindakan bodoh secara massal. Sehingga yang terjadi adalah berjatuhannya korban dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada semestinya. Dan itu kambuhan sifatnya.

Lalu saya bercerita padanya kisah tentang gempa di Bantul sekian tahun silam. Semua panik berhamburan pasca shubuh itu. Yang tinggal di Jogja berlarian naik menuju Kaliurang, karena takut Tsunami. Yang tinggal di Kaliurang tergopoh turun ke Jogja, karena cemas letusan Merapi. Lalu kedua massa panik itu “berbenturan”  di Pakem.

Bagaimana dengan mereka yang sering mengikuti sosialisasi tanggap bencana ? Tetap panik !

Bagaimana dengan mereka yang puluhan tahun mengaji tentang tawakkal ? Sama saja !!

Bagaimana dengan langganan majelis taklim yang belajar agar tak takut mati ? Sami mawon !!!

Ya, tak ada gunanya !!! Karena bangsa ini individualitasnya rapuh dan egonya lemah. Mereka sangat terpengaruh dan dikendalikan oleh stimulus dari luar. Kontrol diri begitu lemah.

Begitu ada gempa, langsung bereaksi dan kewarasan hilang. Begitu ada isyu, langsung bertindak dan nalarpun lenyap. Begitu orang lain panik, maka iapun segera terbawa panik dan akal sehat pudar.

Jadi, walaupun di pesawat kita seringkali belajar prosedur kedaruratan dari pramugari, jangan berharap itu akan terpakai saat situasi darurat sesungguhnya. Kita akan dihipnotis oleh peristiwa, dan semua doktrin serta ajaran pupus terlupakan.

Jadi, bapak… ibu… guru… dan pemimpin sekalian, masihkah individualitas bangsa ini akan terus dikebiri demi ajaran sakti tentang sosiabilitas, kebersamaan, sama-sama, dan kesamaan?

Masihkah anak-anak di bawah tujuh tahun kita dipaksa memikul doktrin tentang kepenurutan, keakuran, kekompakan dan harmoni ? Sungguh, sebagai ummat manusia kita sangat butuh tentang sosiabilitas, sinergi dan kebersamaan. Namun itu tak seharusnya ditegakkan dengan menelikung individualitas anak-anak kita.

Ini bukan tentang egoisme, tapi tentang kontrol diri.

* Tanya Jawab *

🔺Ayah Igo & Bunda Rita
Tulisan yg mengginspirasi 👍🏻👍🏻👍🏻

Maaf ustadz Adriano, bagaimana yah cara kita mengembangkan individuasi anak agar mempunyai kontrol diri yg kuat dan tidak mudah dikendalikan stimulus dari luar?

👤 Tentang membangun individualitas pada anak usia di bawah 7 tahun :

*Pertama*, perlakukan tiap anak secara spesial mulai dari panggilan, pakaian, perlakuan dsb.

*Kedua*, hindari pendidikan yang menyeragamkan. Biarkan si Abubakar khas dengan shiddiq-nya, biarkan Si Umar dengan firman-nya, biarkan Si Ali dengan intelektualitasnya, biarkan Si Utsman dengan kedermawanannya.

*Ketiga*, jangan suka membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya, kecuali untuk ketaqwaan

*Keempat*, ijinkan anak untuk memiliki property dan wilayah pribadinya sendiri

*Kelima*, bantu anak agar memiliki visi dirinya sendiri dalam rangka membangun self-concept. Misalnya : aku adalah Si Istiqamah

*Keenam*, berikan kasus kepada anak. Biarkan dia menyelesaikan dengan caranya sendiri.

*Ketujuh*, berikan alat-alat ekspresi diri pada anak. Biarkan dia memilih media ekspresi diri yang paling tepat.

*Kedelapan*, ijinkan anak berbeda pendapat dengan saudaranya dan orangtuanya. Biarkan dia punya pandangan sendiri, sejauh ma’ruf.

*Kesembilan*, untuk setiap masalah, keinginan, kebutuhan dsb, sediakan beberapa alternatif agar anak bisa memilih yang pas baginya.

*Kesepuluh*, ijinkan dan biarkan anak dengan sikap dan kesendiriannya dalam realitas sosialnya, walau ia harus dibully teman-temannya. Kuatkan dan besarkan hatinya untuk mengambil resiko tersebut.

🔺Bunda Luthfia
Ust, jika dlm hal blm ingin berbagi dgn adik atau teman sebaya apakah masih dlm konteks individualitas ini?
Saat berebut benda dgn adik atau temannya sy minta anak yg besar (4th) utk saling berbagi apakah itu tepat?

👤 Anak yang belum berusia 7 tahun memang sangat individualis, jadi wajar belum mau berbagi dengan yang lain.

Jangan dipaksa untuk berbagi. Ijinkan ia mempertahankan haknya, agar di masa depan ia juga tangguh dalam mempertahankan haknya.

Anak yang diminta berbagi terlalu dini kelak cenderung lemah daya juangnya.

🔺Minasya
Jika individualitas dipupuk utk usia 0-7thn, bagaimanakah dg usia usia selanjutnya agar kontrol diri bisa optimal? Apakah kontrol diri sama dengan tidak reaksioner, ustad?

👤 Di usia selanjutnya individualitas ini tetap perlu dikembangkan, tapi dalam semangat sosial, kerjasama, berbagi dan sinergi.

Tanpa individualitas yang kuat, sulit untuk saling berbagi. Tanpa mencintai diri, sulit untuk mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri.

“Tak beriman seorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (Hadits)

👤Bunda Wenny
Maaf ustadz…saya msh blm paham ttg individualitas. artinya apa ya ustadz? Mhn pencerahannya.

👤 Individualitas adalah kekuatan ego untuk mengekspresikan diri, mengendalikan diri, mempertahankan sikap dan keyakinan, kesanggupan untuk tampil berbeda, kemampuan untuk membangun keunikan, kekhasan dan visi diri.

🔺Minasya:
Termasuk berbagi makanan ustad? Tetap memperhatikan individualitas?

👤 Betul. Kalau dia tak mau berbagi makanan yang memang haknya, ya nggak usah dipaksa. Nah, kalau sudah masuk 7 tahun mulai diajar barter. Sosialisasi dimulai dari sini.
Usia 10 bahkan anak perlu diajarkan berkorban dan mengutamakan orang lain

🔺Minasya
Terkait 10 poin membangun individulitas, bagaimana dg anak yg bergaya tomboy di usia ini. Apakah ttp kita berikan haknya?

👤 Lihat dulu kualitas tomboynya, Bu. Kalau sekadar “nggak terlalu kelihatan femininitasnya”, itu masih wajar, karena identifikasi seksual memang belum kuat di masa itu.
Tapi kalau dalam bentuk “menyukai segala aktivitas laki-laki, dan nggak suka segala aktivitas perempuan” berarti ada yang salah dalam pola asuh.

🔺Bunda Juni Wati
Jazakumulloh khoiron katsiron Ustadz.
Ustadz, yg kesepuluh itu… ttg #dibully# . Saya kadang tdk kuat liat anak sy dibully. Bgmn caranya supaya dia keluar dari itu kalau kita tidak membantunya ?

👤 Kalau anak dibully tidak sampai membahayakan fisik (kekerasan), psikis (teror) dan finansial (pemalakan), sebaiknya orangtua cukup kasih support dan recovery saja. Kuatkan anak untuk “melawan”.

🔺Bunda Juni Wati
🙏 🙏 terima kasih Ustadz. Selama ini saya jauh2kan dia dari teman2 yg suka bully krn keterbatasannya dlm berbicara.

👤 Di Tangerang ada anak dengan keterbatasan bicara, sekarang menjadi lebih lancar gara-gara didorong oleh orangtua, guru dan teman untuk melawan bully.
Jadikan bully sebagai pemicu, bukan penekan.

Pak Habibie itu aslinya punya masalah bicara. Dulunya beliau sangat gagap, karena kecepatan berpikirnya jauh melampaui kecepatan bicaranya.
Namun karena selalu terdesak oleh kebutuhan presentasi, akhirnya ia harus melawan kendala itu. Sekarangpun sesekali Pak Habibie masih kelihatan gagapnya, walau agak samar

🔺Ayah Muji
☝Ijin nanya Ustadz, terkait kalimat:
Kuatkan anak untuk “melawan”.
Mohon pencerahan Maksdnya “melawan” yg bagaimana ya? Anak saya sering dibully juga gegara tidak sekolah, pulang main curhat😬🙏

👤 Bahwa anak curhat setiap dibully, itu bagus. Nah saat curhat itulah anak dididik untuk “melawan” bukan hanya bertahan.
Ajari dia untuk “membalas” secara verbal. Jadikan ketidaknyamanan dibully sebagai energi untuk melawan tekanan.
Di rumah, latih dia menggunakan beberapa kalimat jitu dan pamungkas melawan bully.
Tapi ini harus kerjasama dengan guru dan temannya, agar dia punya banyak supporter.

Saya pernah membaca sebuah joke tentang anak cadel yang “dibully” penjual nasi goreng. Walau cuma joke, tapi itu contoh yang baik bagaimana bully berubah menjadi tantangan.

🔺Bunda Firna
Bagaimana mengatasi anak yg seperti ini ya ustadz. Anak ke 2 saya begitu. Akhirnya sering ngamuk karena perkataannya sering dipotong temannya atau lawan bicara yg sebaya krn mereka tidak sabar dgn kegagapan atau penjelasan anak saya yg tampak berbelit.

(Belum terjawab)

🔺Bunda Rita (share):
Keterbatasan fisik…jadi ingat salah seorang santri saya dulu. Kaki kanannya tak ada. Tapi dia jago main sepeda dan pingpong. Para pengasuh pondok tak pernah memberikan keringanan dalam aktivitas harian. Antri, OR, bahkan saat dia merasa di bully dan melawan , kami tak pernah bantu membelanya.
Dan kami bgt karena diajari ibunya saat mengantar pertamakali putranya mondok.
Pesan ibunya “anak saya ingin memperdalam ilmu agamanya tolong di bantu ya Ustadz/dzah, selebihnya biarkan dia seperti kami biasakan di rumah bersama adik” dan teman tetangga.”
Jadi kami pelajari dulu cara ibunya mengasuh dan mendidik.
Saya sangat terkesan dg kepercayaan dirinya. Juga cara ibunya menumbuhkan itu.

#HomeEducationbasedonAkhlaqandTalents
#HEbATCommunity
#FitrahBasedEducation
#FitrahPerkembangan0-7tahun
#BincangSantai
#FitrahIndividualitas

Arsip HomeSchooling dari Blog

http://diaryambu.blogspot.co.id/2016/09/ngobrol-asyik-tentang-legalitas.html?m=1

Ngobrol Asyik (ngobras) Bareng Sabumi
Sabumi adalah wadah silaturahim, berbagi ilmu dan semangat dalam menjalankan pendidikan berbasis keluarga (homeschooling) yang sesuai dengan tuntunan Quran dan Sunnah. Sabumi berbasis di kota Bandung dan merupakan bagian dari komunitas HSMN (Homeschooling Muslim Nusantara), di bawah naungan YGJ (Yayasan Generasi Juara) 

*sumber : http://www.sabumi.wordpress.com

Pengisi untuk acara ini:
1. Ibu Ida Nur’aini*
Founder HSMN, Pembina YGJ, Praktisi Homeschooling 
2. Ibu Dra. Eem Sukaemah, M.Pd
Dinas Pendidikan Kota Bandung

Acara diadakan pada tanggal 3 September bertempat di aula Mesjid Istiqomah dari pukul 13.00-17.00wib.

Legalitas Homeschooling/ Sekolah Rumah
Pada hakikatnya homeschooling ini dilakukan untuk anak-anak yang sudah berusia untuk sekolah. Untuk memulai sesuai poin yang harus kita cari tahu adalah legalitas yang anak kita miliki apabila menjalani proseshomeschooling.

Homeschooling ini anti main stream/ tidak biasa akan tetapi ketika kita memutuskan mengambil legalitas sebagai warga negara yang baik harus mengikuti aturan pemerintah. Untuk yang tidak memiliki kebutuhan akan ijazah, proses legalitas ini bisa di hilangkan dan lebih fokus untuk fokus pada poin-poin penting yang sesuai dengan visi misi keluarga.

#Sesi pertama ngobras: Mengenai dasar hukum sekolah rumah/homeschooling

Menurut Ibu Eem, Bandung menaungi sekitar 6 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) dan ada sekitar 600 pelaku homeschooling di kota Bandung. Untuk Kota Bandung sendiri secara resmi belum menunjuk secara resmi untuk Sekolah Payung bagi home scholer. 

Dalam Perda pendidikan kota bandung no. 15 tahun 2008 pasal 27 Ayat 1, 2, 3 mengenai tata laksana sekolah rumah (silahkan googling isi peraturannya). Dan ujian persamaan merupakan solusi apabila peserta homeschoolingingin mendapatkan legalitas pendidikan berupa ijazah.

Homeschooling itu terdiri dari:

1. Homeschooling tunggal

2. Homeschooling majemuk

3. Homeschooling komunitas.

Untuk mengikuti ujian persamaan, diharapkan pelaku homeschoolingtunggal menginduk kepada homeschooling komunitas dalam hal ini PKBM. Untuk kemudian dinas pendidikan kota mampu melakukan pengawasan dan pendataan melalui PKBM tersebut.

Ditambahkan oleh Ibu Ida Nur’aini founder HSMN, Persyaratan mengikuti ujian persamaan:

1. Untuk ujian persamaan setingkat SD Anak berumur 10tahun lebih 6bulan, untuk tingkat sekolah dasar dan selanjutnya berjarak 2tahun dari ujian terakhir.

2. Menyertakan raport 5 semester terakhir.

3. Mendaftar melalui PKBM yang resmi, kenapa resmi? Iya kalau gak resmi bagaimana kita bisa memperoleh legalitas untuk pendidikan putera puteri kita.

Kapan waktu pendaftaran ujian persamaan?

Biasanya peserta ujian persamaan didaftarkan 1tahum sebelum ujian persamaan berlangsung. Pendaftaran tersebut berlangsung pada sekitar bulanAgustus -oktober, lebih baik sih kalau fix mengikuti ujian persamaan bulan Agustus sudah siap mendaftar. Misal: akan mengikuti ujian di tahun 2017 maka harus sudah mendaftar maksimal september tahun 2016. 

Silahkan dihubungi PKBM-nya untuk info pendaftaran lebih lengkap. Dan untuk informasi lebih lanjut terkait pendidikan boleh langsung menghubungi Ibu Dra. Eem sukaemah M.Pd, di dinas pendidikan kota Bandung. 

#Sesi Ke 2 ngobras: teknis homeschooling

Menurut saya sih ini bagian yang menarik, buat saya yang baru berencana untuk homeschooling, proses keseharian pelakuhomeschooling perlu banget di “intip”. Bunda Ida Nur’aini mengupas tuntas mengenai perjalanan beliau selaku ibu dari 3 anak yang homeschooling.

Beliau memulai kegiatan homeschooling karena puteranya mengalami kasus bullying. Menurut beliau, sebelum melaksanakanHomeschooling ada baiknya kitameluruskan niat mengapa kita melakukan homeschooling. Bukan karena ingin “melarikan diri” dari proses bullying atau ingin anak bisa dengan cepat menempuh fase perkuliahan. luruskan niat dan tetapkan yang menjadi tujuan homeschoolingtersebut.

Pada pelaksanaannya, pelaku homeschooling juga rentan terhadapbullying, dari keluarga atau masyarakat sekitar. Dan pornografi pun bisa terpapar pada anak homeschooling ketika melakukan proses belajar mandiri dan surfing di dunia maya. 

*note saya: Meminta pertolongan pada Alloh, karena allohlah sebaik-sebaiknya pertolongan.

Bagaimana Kurikulum untukHomeschooling?
Rasanya kalau disuruh memindahkan seluruh pelajaran sekolah  ke rumah seperti di sekolah, aku tak sangguuupp~~ tetiba Ambu nyanyi deh hehehe.

Ini yang membedakan homeschoolingdengan sekolah formal, pada akhirnya setiap anak memiliki kurikulum masing-masing. Artinya kurikulum disesuaikan dengan visi dan misi keluarga serta minat dan bakat anak. Mengasah keterampilan yang anak sukai, sehingga anak bisa nyaman dan terampil untuk bidang yang ditekuni. Mengatur Kurikulum juga pada akhirnya akan diketahui sejauh mana legalitas atau ijazah dibutuhkan.

Apabila anak menginginkan menjadi praktisi, pemilik usaha mungkin tidak membutuhkan legalitas berupa ijazah atau mungkin untuk keahlian khusus cukup dengan sertifikasi bidang yang ditekuni anak. Akan tetapi lain hal ketika anak menginginkan hal-hal yang berbau akademis seperti menjadi dokter, ijazah diperlukan untuk menunjang kebutuhan ini.

Kurikulum di rumah Ibu Ida Nur’Aini:

1. Anak meneladani perilaku orangtuanya

Anak akan meneladani sikap dan perilaku orangtuanya.

2. Kecakapan hidup

Melakukan pekerjaan rumah. Selain membentuk pola berbakti pada orangtua hal ini juga diharapkan bisa mengasah kemandirian dan kecakapan hidupnya untuk mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

3. Mengerjakan tugas pribadi

Khas pembelajaran yang menjadipassion anak yang terlihat sejak 7-8tahun, dijadwalkan setiap hari. Misal: untuk kasus putera pertama Ibu Ida menyukai design, maka anak mengerjakan tugas-tugas yang terkait kegiatan design-nya.

Mungkin akan lebih terarah ketika anak sudah fokus dengan minat dan bakatnya,

Bagaimana dengan Keluarga yang baru mulai Homeschooling?

1. Dimulai dengan memahami cara belajar anak

Pahami gaya belajar anak, bagaimana cara mengidentifikasi orang tua secara umum memiliki kepekaan terhadap kemampuan anaknya. Analisis bagaimana cara anak menuangkan idenya baik berupa tulisan, menggambar atau berbicara langsung.

Note: *tugas Saya sama Akang

2. Explorasi kesukaan anak

Penuhi rasa ingin tahu anak. Dengan banyak tau dan banyak bertanya, orangtua akan lebih mudah mengetahui apa yang menjadi kesukaan anak. 

Cara setiap keluarga unik, penuhi 5H1W. What, who, where, when, why, How: Apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana. 

3. Berikan pemahaman anak untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan keinginan untuk belajar lewat membaca 

4. Komitmen untuk orangtua

Untuk orangtua pelaku homeschooling, harus mau direpotkan dan untuk inisiatif untuk mencari tau, pada awalnya mendampingi anak dan pada akhirnya mempercayakan kemampuan anak. Yang pada akhirnya orangtua pun harus besar hati apabila anak tidak menginginkan legalitas berupa ijazah.

Bagaimana Budgeting Homeschooling?

Homeschooling sama halnya dengan sekolah formal pun membutuhkan biaya. Akan tetapi pada homeschoolingkisaran biayanya disesuaikan dengan keuangan dan kebutuhan anak.

Biaya pada homeschooling pada saat membeli buku-buku penunjang minat dan bakat anak serta informasi lainnya yang dibutuhkan, biaya kursus/club yang diikuti anak sesuai minat dan bakatnya, biaya sertifikasi apabila anak menekuni satu bidang khusus, dan biaya legalitas pendidikan (apabila membutuhkan legalitas berupa ijazah).

Resiko homeschooling:

1. Bullying dari keluarga dan orang sekitar, karena pilihan ini anti mainstream, artinya berdiskusi dengan anak dan (saling) menguatkan pondasi mengenai pilihan tersebut

2. Kemungkinan terpapar pornografi

Dalam kegiatan belajar mandiri, ketika anak berselancar di dunia maya, kemungkinan ini bisa saja terjadi. Pendampingan dari orangtua untuk terua melakukan komunikasi produktif dan membina “ikatan” dengan anak.

3. Pendampingan dari orangtua

Sebagai orangtua terus melakukan pendampingan kepada anak salah satunya mengantisipasi terjadinya hal seperti pornografi. Pendampingan orangtua juga diperlakukan sebagai fasilitator. Bersama anak proaktif menggali potensi dan kebutuhan anak.

4. Mati Gaya!

Nah kalau, orangtuanya sudah mati gaya begini kalau Ambu pribadi pasti bingung mau ngapain. Solusidari Bunda Ida Kalau hal ini terjadi, ada baiknya berdiskusi dengan anak. Dan Membaca dan menceritakan/ menuliskan kembali apa yang dibaca bisa jadi solusi yang jitu kalau fase mati gaya ini datang.

#sesi tanya Jawab:

Saya tidak mencatat dan merangkum semua pertanyaan dari peserta pada sesi tanya jawab di sesi kedua, tapi pertanyaan terakhir ini emang kece maksimal, dan (juga) sebetulnya menjadi pertanyaan saya:

Bagaimana menyikapi kesan kalau Anak homeschooling menjauhi ketidaknyamanan sedangkan kehidupan yang sebenarnya penuh denga tekanan?
(Jawab) 

Anak HS berusaha dan berupaya untuk melakukan apa yang dia suka betul, akan tetapi tidak mudah untuk menjadi pembelajar mandiri, bagaimana bisa konsisten untuk bisa mengasah keterampilan.
Dan orangtua tetap harus menerapkan quality control untuk tugas-tugas rumah, memberikan pemahaman untuk kehidupan yang penuh dengan stress.

Bagaimana dengan portopolio untuk anak homeschooling:

(Jawab)

Portofolio pada umumnya tidak terlalu dibutuhkan, akan tetapi untuk di luarnegeri portopolio bisa menjadi pelengkap anak.

Jadi untuk portopolio sendiri:
1. Tujuan untuk apa disesuaikan dengan apa yang menjadi kebutuha Anak.
2. Didukung oleh ujian sertifikasi.

Untuk anak usia dini portopolio berupa dokumentasi Lebih untuk memyimpan kenangan bilamana anak sudah dewasa.

Bagaimana homeschooling Untuk Anak Berkebutuhan Khusus?

(Jawab)

Untuk anak berkebutuhan khusus, sebaiknya pada melatih kemandirian dan kecakapan hidup. yang pada akhirnya ABK mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa ketergantungan dengan oranglain.

Tentang Sabumi

Kedepan Sabumi (Insyaalloh) bisa mengadakan ujian persamaan, InsyaAlloh (rencananya) pada 2018. Akan dirancang untuk kurikulumnya. Disarankan untuk yang tertarik anak-anak usia sekolah pada umumnya, untuk setingkat Sekolah Dasar terutama kelas 4,5, dan 6. 

silahkan menghubungi Sabumi

Fanpage: Sabumi

Website: Sabumi