Kita dan ..

Archive for the ‘Kita dan Serpihan Karya’ Category

Lautan ombak..

menepi.. memudar.. menepis..

Birunya laut yang disangka tenang

menghantam karang hitam di tepian pantai.

 

satu dua kali hantaman..

karang itu masih kokoh berdiri..

tapi..

lihatlah batuannya mulai lapuk

tergerus air laut..

 

kenapa laut tak mau mengerti?

Laut seharusnya mengerti karang..

Laut seharusnya berbicara dengan bahasa hati..

bukan membandingkan dengan kapal besar..

ya.. kapal besar yang dapat maju karena ada dukungan dari laut..

 

karang hanya diam..

ia tak bisa berkata apa yang seharusnya dikata..

mengelak pun tak bisa..

karena laut bersamanya..

hanya menggerus dalam sepi..

menunggu mentari datang..

memecah keheningan yang menderanya

mencairkan kerinduan yang terpendam lama..,

 

wahai mentari,

kapan kau datang.. ??

siluet senja menepis arakan asap putih..

menebal dan melebur bersama angin..

kabur.. tak terlihat satu pun titik nadi..

mengepul bersama air yang tak kunjung menetes..

 

kemanakah senja akan membawa siluet hati ini?

 

“Cerpen waktu kaka rereorangan”

 

My story in my mind : dewi_fiqri  48kerenpisan!

Sinar mentari pagi menerpaku lewat celah-celah gedung yang menghimpitku. Sementara langit membiaskan birunya menyatu dengan putihnya gumpalan awan. Matahari, langit dan awan sedang asyik bercengkrama. Memikirkan bagaimana membuat indah dunia lewat pergantian siang dan malam. Mereka hampir tak sanggup lagi memikul amanah sebagai pengatur cuaca dunia. Usia mereka telah keropos di makan oleh peradaban manusia. Perkembangan teknologi yang canggih telah membuat mereka menderita ketidakstabilan. Atap langit telah bocor di mana-mana. Matahari yang ganas tak bisa meredam panasnya untuk tidak terlalu menyusupi langit. Awan hanya bisa terdiam melihat udara, bagian dirinya terkena polusi.

Kini, Cuaca Bandung, tak seramah dulu. Pikiranku menerawang kembali ke masa kecilku. Kalau dulu, kesejukkan udara bandung dapat ku hirup dengan leluasa dimanapun aku berada. Sekarang, hal itu menjadi langka. Aku hanya bisa menemukan pesona keaslian udara bandung di beberapa tempat. Salah satunya ciwidey, sebuah daerah puncak pegunungan di selatan kota bandung.  Tempat itu meluapkan hawa yang sejuk. Ketika aku berada di sana, butir-butir oksigen yang membahana dapat ku rasakan melalui saluran alveolusku hingga merasuki ruang pikiranku. Kepenatan yang menumpuk di kepalaku seolah hilang secara perlahan. Tergantikan oleh fatamorgana yang indah. Keelokkannya terlihat dalam suasana asrinya pegunungan yang membentang. Biasanya, pegunungan itu ditanami tanaman teh. Hanya ketika panen teh tiba, pemanen harus rela untuk mendaki undakan dan menuruni tebing. Justru itulah keasyikannya bagiku. Aku pernah bermain-main dengan kebun teh bersama temanku. Teman massa kecilku, Parsi. Saat itu, aku merasa menyatu dengan alam. Selain teh, kekhasan lain dari ciwidey adalah stroberry, buah kesukaanku. Apabila tiba musim panen, buahnya ranum-ranum dan besar-besar. Rasa buah tersebut pun seolah mencerminkan dunia ini, ada keaseman dan kemanisan dalam hidup.

Tak kalah menarik petak sawah yang terhampar di antara rumah penduduk pun menjadi pesona Ciwidey. Di beberapa tempat yang curam, kadang ku temukan sawah yang bertumpuk, saling bertimpalan membentuk sebuah ekosistem yang alami. Kawah Putih yang meluapkan bau belerang, Cimanggis, Situ Patenggang, Rancaupas tempat kemping yang bertabur bintang ketika malam menjadi tempat favoritku, selain ke rumah saudaraku. Tempat lain di kota bandung yang menawarkan pesona alam selain ciwidey adalah daerah lembang. Kalau tempat ini, ada di sisi yang berlawanan dengan ciwidey, di utara kota bandung. Daerah ini pun mempunyai pesona tersendiri. Tangkuban perahu, Cikole Jungle Park, kebun stroberry menjadi andalannya. Hanya saja, kawasan ini sudah padat akan rumah penduduk.

Tiba-tiba…

“Nu”, seseorang dengan suara ngebass seperti ku kenal menepuk pundakku dengan sebuah buku. Jantungku seakan mau loncat seketika, membuatku terlonjak. Menyadarkanku dari lamunanku.

“Eh..oh kamu..!”

“Nich bukunya ketinggalan di kelas!”

“makasih”

“Judulnya pas dengan orangnya.. ‘Mendongkrak daya Ingat’,”

“emm…..”

Aku mendadak geram dengan yang ia katakan. Tapi sebelum aku membidik panahku menuju sasaran, ia telah pergi dengan salam selintas meninggalkanku yang hanya termangu menatap langkah kakinya. Ia temanku Wing, seorang yang benar-benar simple, tapi kritis luar biasa dan cerdas. Ia seorang orator yang hebat. Beberapa kali, ia memimpin kegiatan advokasi mahasiswa. Aku sering kehilangan kata-kata jika bertemu dengannya. Padahal ia adalah anak dari sohib mamahku. Waktu kecil kami sering bermain bersama. Ia sering dibuat menangis olehku karena aku sering merebut mainannya. Tapi lihatlah ia sekarang. Ia seorang organisatoris yang hebat. Jam terbangnya sudah tinggi dalam kegiatan ormawa di kampusku. Seperti namanya Wing, selalu lepas landas, terbang kian kemari, tak mau diam. But, what is a name? Namaku, nurul.. apakah diriku sesuai dengan namaku, Cahaya! Aku tak mau pusing memikirkan itu, pikirku dalam hati.

Aku terus melangkahkan kakiku menuju mioku di pelataran parkir. Di antara dua sisi tanaman yang berderet, jalan yang ku susuri mencerminkan setengah sosok bayanganku. Setengahnya menyusut, menemukan jejak diri yang hilang. Baru setengah episode pula aku menjalani rutinitas hidup ini. Usiaku masih belia, pikirku. Tapi benarkah setengah episode? Hatiku bertanya-tanya. Kini, mataku melirik pada jam yang melingkar lucu di pergelangan tanganku. OUPS, jam 09.30. Aku mempercepat kakiku, menyalakan Mio kesayanganku dan melesat meninggalkan kampusku, UNPAD Jatinangor.

10.32.15 TENG! Jam menggantung di pertengahan jalan Ir.H.Djuanda dengan tiang penyangga di sisi kanan dan kirinya. Monitornya hanya menunjukkan display digital  6 angka dengan titik 2 setelah dua angka. Ia tak bergeming dengan kemacetan yang tengah terjadi di dago. Konsisten berdetak, melaju meninggalkan aku yang tetap ajeg, membeku di mioku. Jarang-jarang daerah ini dilewati oleh si Komo. “Wah, pasti ada yang terjadi”, dalam hati. Perlahan peluh keringatku menetes membasahi kaos biru lengan panjangku. Terik matahari sungguh menyengat di waktu ini. Kemacetan ini membuatku dapat berlama-lama memandangi pertokoan-pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Factory outlet memenuhi kawasan dago ini. Selain itu ada BIP, BEC, Gramedia yang suka dikunjungi oleh ratusan orang bahkan ribuan orang jika hari-hari spesial tertentu. Omset harian yang bisa mencapai dua juta bahkan lebih sudah biasa bagi mereka. Lebih-lebih menjelang hari raya, puluhan juta per hari sudah menjadi sarapan tahunan bagi mereka. Selain daerah dago, kawasan yang menjadi inceran orang-orang adalah pasar baru trade center, ITC kebon kelapa, cihampelas walk. Seketika adrenalinku memuncak. “Suatu hari, nunu kudu bisa sukses, punya  usaha kayak mereka” tekadku.

Bosan melihat pertokoan yang tak pernah sepi pengunjung. Ku alihkan pandangan ku pada sekitarku, jalanan. Polisi-polisi sibuk mengatur lalu-lintas. Ku lihat beberapa pengendara motor yang sesekali menengadahkan pandangannya ke atas dengan kepala yang menjulur. Banyak juga raut muka berkerut dengan bibir yang maju beberapa centi pada beberapa penumpang di angkot.  Emmm…momen ini merupakan kesempatan yang besar untuk para penyanyi jalanan. Biarpun penyanyi jalanan, mereka juga punya organisasi sendiri yang cukup rapih, namanya Kelompok Penyanyi Jalanan, sering di singkat KPJ.  Kegiatannya tidak kalah dengan para artis yang suka membagi-bagikan rizki. Walaupun dana mereka terbatas, mereka tak kalah sosialnya bila ada saudara-saudara mereka senusa sebangsa yang tertimpa musibah. Penggalangan dananya pun cukup pintar, dengan cara yang sama ketika mereka mencari nafkah. Yap..dengan mengamen.

Eits….tunggu, seseorang pria bertopi berbaju merah katun dengan celana jeans belel menenteng sebuah gitar akustikan, di sebelah kanannya pria berambut punk ala grupband luar SUM41 dengan baju hitam dan celana cardigan selutut membawa drum kecil.

“U Rock My World” sebuah tulisan gaya distro tertera jelas di belakang baju pria bertopi itu. ‘Sebentar..kayaknya sering ngelihat deh..ah tapi masa iyah’

Jreng…..jreng…

Duk..Duk..

Jreng..Duk..Jreng…Duk..jreng…

Alunan musik pun mengalir lewat petikan nada gitarnya diiringi tabuhan drum, setelah ia mencari angkot yang tepat, angkot banyak penumpang.

Si Rock pun memotong konser itu…

“Assalamualaikumm…, akang-akang, teteh-teteh, ibu-ibu, bapak-bapak, adek-adek..”

“buruan, tong lila teink” gusar temen disebelahnya yang nggak sabar untuk tampil, si drummer.

“pokokna parunten ka sadayana..bilih ngaganggu

Yach sebuah lagu dari iwan fals judulnya…”

Sebelum selesai mengucapkan judul lagu, si drummer tak sabar melantunkan lagu..dengan suara yang cempreng..memekikkan telinga.

Deentiing pianoo. .kala jeemariii menariii. .

Si rock star yang nyadar buru-buru menimpali gaya khas penyanyi band papan atas…

nada merambat pelan. . . dikesunyian malam. . . . .

saat datang rintik huuuuuuuuuujan. . .

bersama sebuah bayang. . .

yang pernah terlupakan. . .

Jarakku yang hanya dua meter dari mereka membuatku dapat mendengarkan apa yang mereka nyanyikan. “gaya aja rock, lagunya mellow..eh tapi kok suaranya kayak kenal”dalam hati membuatku makin penasaran dengan pengamen itu.

Menyadari angkot yang segera akan berjalan kembali, si Rock buru-buru  menghentikan nyanyiannya “yach cukup sekian dari kami, mohon keikhlasannya untuk jemarinya, apabila kurang puas..maaf kami bukan pemuas..”

“Wassalamulaikum…”

Si drummer pun mulai mengedarkan akua gelas kosong yang dipegangnya sejauh batasan yang bisa dicapainya. Seorang ibu mengulurkan tangannya ke arah si drummer, memasukkan sebuah koin seratus.

‘Cape-cape berkhotbah dengan susah payah, Cuma satu orang yang ngasih…’ gerutunya di hati. Satu pesan : banyak penumpang belum tentu menjamin akan dapat banyak tips.

Seketika si rock dan drummer yang saat ini hanya berjarak 2 meter denganku membalikkkan badannya, mencari sasaran angkot lainnya.

Dapat ku lihat sebuah raut muka khas batak yang keras, seolah-olah di keningnya telah tertempel slogan “tak kenal kompromi”! Di sebelahnya, muka yang polos tak dipoles, tak bercorak, tapi dari sorot matanya yang tajam, ia seolah-olah ingin membuktikan pada dunia, “Indonesia, nantikan aku, seorang penyanyi sukses masa depan”. Aku pun menyadari kedua pengamen itu adalah adikku, Eka Chandra, si Rock dan Toni, si drummer.

“EKA…” teriakku dengan lantang untuk menghadapkan wajahnya ke arahku sebelum mioku berjalan lagi, tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang di sekitarku. Satu kesempatan emasku.. Aku dapat satu poin lagi. Eka  yang langsung menyadari keberadaanku buru-buru menjauhiku. Tapi ia tak bisa menghindari kecepatan kilatan dari ponsel kameraku. Senyuman simpulku cukup untuk membuatnya kalah telak. Kembalinya jalan dalam keadaan lengang, membuatku dapat melarikan mioku secepat mungkin darinya. Ternyata yang membuat macet adalah pempersihan saluran oleh PU kota bandung. Selesai melewati daerah itu, jalanan kembali normal.

Seminggu ini, aku kesal dengan adikku, ia membaca diariku terang-terangan.  Sekarang bagianku untuk membuatnya kapok membaca diari orang. Aku akan mengadukannya pada Ibu. Ibu ku seorang yang motivator dan penuh wibawa. Ia bisa membuat kami kembali berpijak ke jalan yang lurus. Selain untuk membuatnya jera membaca diariku, demi kebaikannya juga. ‘Jam sekolah kok bolos padahal lagi pemantapan, bentar lagi ujian kelulusan malahan’. Tapi aku memang mengakui bakatnya dalam hal seni, ia telah meraih sejumlah penghargaan lomba band di beberapa ajang. Waktu pertama kali mendapat piala waktu kelas 3 SMP, wajahnya tersenyum penuh kemenangan dan bangga ketika melihatkan piala tersebut kepadaku.

Mengingat pengamen jalanan, membuatku teringat pada sosok anak-anak kecil yang suka membawakan lagu yang polos seperti ini,

Nyanyi di depan Tuan dan Nyonya

Kontes Lewat Nyanyian

Sekedar buat cari Makan

Selebihnya buat kami bawa pulang..

………………..

selamat jalan Tuan

selamat jalan nyonya

semoga lekas sampai tujuan

Tapi akhir-akhir ini, anak-anak pun beralih ke lagu-lagu band-band ternama. Peterpan, ungu, ST12 dsb terukir dalam pikiran mereka. ‘Hancur…hancur, mau jadi apa nanti mereka, wong kecil dah belajar lagu cinta-cintaan..’

Jarakku dengan gramedia tinggal beberapa meter lagi. Dari mio ku, dapat ku lihat tulisan ‘Gramedia’ secara jelas. Aku akan segera menemui toko buku kesayanganku.  Kerinduanku pada kedua sahabatku, Parsi dan buku akan segera terobati.

GRAMEDIA..I’m coming!!

PARSI…I’m coming!!

Parsi, seorang gadis yang suka tersenyum. Dalam keadaan apapun, mau marah, bete, ia selalu tersenyum. Bukan kehendaknya yang membuatnya seperti itu, tapi karna lekuk bibirnya membentuk sebuah senyuman yang manis di wajahnya. Sehingga tanpa ia tersenyum pun, ia sudah melukiskan semburat senyuman di wajahnya.  Ketika ia berbicara, senyumnya tampak lebih terlihat ditambah dengan lesung pipi di kedua belah pipinya. Kalo tegang, senyumnya akan semakin lebar. Aneh, memang! Tapi itulah parsi. Sampai-sampai orang-orang salah mengartikannya. Waktu SMA dulu ketika ia terlambat masuk kelas. SMA kelas 1, awal mula kami mengenal dunia SMA. Kebetulan saat itu guru yang mengajar tergolong orang yang killer menurut kami, maklum masih bau kencur. Namanya bu May, guru matematika. Nama lengkapnya, Maysaroh.  Lahir bulan mei, selalu antusias dalam peringatan hari pendidikan, 2 mei. Setelah kami selidiki, ternyata itu adalah tanggal kelahirannya bertepatan dengan tanggal pernikahannya dan tanggal kelahiran anaknya.

“Punten ibu, saya terlambat” lirih parsi dengan senyuman khasnya.

“ibu sudah tahu kamu terlambat. Harusnya kamu langsung bilang alasannya.”

“kok malah senyum-senyum!” anak-anak sekelas pun tertawa. Dengan senyumnya, ia mencairkan suasana yang semula beku. Sebagian orang berkata dengan setengah berteriak, saling menimpali “emang orangnya suka senyum bu!”, “udah dari sononya”…dsb

“saya…emmm..”

Lama menunggu ia melanjutkan kata-katanya, Ia pun disuruh untuk mengerjakan soal PR yang ditugaskan kemarin di papan tulis. Dan disuruh untuk menyalin PR sebanyak 10 kali sebagai konsekuensi telat, seperti perjanjian di awal.

Tapi nasib memang aneh. Terkadang pengalaman menyedihkan dengan seseorang berputar seperti roda. Tuas kehidupan memutarnya ke arah yang tak di sangka-sangka.

SMA kami yang terletak di jalan pasir kaliki no.51 bandung merekam kejadian yang tak kan kami lupa. Sebuah sekolah imut dengan desain tempo dulu yang berpadu dengan arsitektur zaman sekarang. Hotel cemerlang, hotel guci, dan sederetan hotel yang mengelilinginya seolah menenggelamkan bangunannya. Jika orang tak benar-benar melihat ke samping dan melihat plang di atas bertuliskan “SMAN 6 Bandung”, mereka tak kan menyangka bahwa bangunan itu adalah sekolah. Sampai saat ini, sekolah itu telah mengalami perombakan beberapa kali. Sekarang setiap kelas mempunyai tempat sampah sendiri di depan kelas, organik dan anorganik. Terlebih tempat sampah di dekat kantin yang besaar sekali. Kantin yang semula di belakang dekat WC pun pindah jadi di dekat ruang guru.

Ia menjadi saksi sejarah  kami. Kami yang waktu kelas 1 SMA sering bolak-balik Istana Plaza yang jaraknya tak jauh dari sekolah,  hanya untuk bermain Game Master, atau berfoto box ria. Tak terhitung jumlah foto box yang ku kumpulkan. Mengunjungi gramedia hanya untuk melihat-lihat buku atau sekedar mengisi perut kami di food court lantai 3 sambil bergosip ria. Kami yang kelas 2 sering membolos ke kantin jika tidak ada guru walaupun ada tugas. Di kejar anjing usai pelajaran olahraga. Sekolah kami yang imut tak mampu menampung kami untuk berolahraga dalam lapangannya. Lapangan itu penuh dengan motor. Sehingga kami harus olahraga di lapangan krisna, lapangan di belakang sekolah. Kami yang kelas 3 suka tertidur di kelas..sampai guru-guru yang mengajar bosan dengan tingkah kami..ha..ha..ha..Guru-guruku tercinta maafkan kami. I love U All.

Ada hal lain lagi yang mebuat uniq sekolah itu, kalo kau mencari orang, kau tinggal berdiri di tengah lapangan. Trus teriak deh dengan lantang, sebutkan namanya 3 kali, maka ia akan muncul dengan kerumunan orang yang mengelilingimu dari lantai 2 dan di sekitar lapangan..he.. dan temanmu akan menyangkamu ‘orang aneh’!

Mengenang itu membuatku terhenyak, aku sudah melewatkan sekeping peristiwa masa mudaku dengan hal-hal yang kurang bermanfaat.

‘Masa muda masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri  walau salah tak peduli…..wahai kawan para remaja, berpikirlah dalam melangkah, agar tidak menyesal akhirnya’ itu kata bang Roma.

Massa sekarang adalah titik balikku, aku harus mengubah hal-hal yang harus ku ubah. Walaupun aku tak dapat mengubah kebiasaan lamaku, keseringan nonton bioskop dan ceroboh..ha..ha..ha. dan sungguh sulit untuk memakai jilbab. Semuanya emang butuh proses.

Sekarang, aku telah berada di lantai 3 gramedia BIP.

Dari kejauhan, sesosok wanita separuh baya sedang berbicara dengan seorang wanita muda. Wanita separuh baya itu memakai kacamata  berbingkai kotak dengan lensa cekung kecil di bagian bawah. Garis kerutan yang semakin banyak menghiasi wajahnya seolah menampakkan ia sudah lelah akan kehidupan dunia. Tapi tatapan matanya selalu bersinar terang. Tak redup oleh terpaan arus usianya. Cahaya ilmu terpancar dari wajahnya.

“Assalamualaikum bu May” ucapku sambil merengkuh tangan kanan guru ku. Bu may segera merengkuh tanganku dan menarik wajahku, sehingga bisa kurasakan kehangatan yang mengaliri pipinya. Ia memang seorang pembimbing yang memberiku banyak inspirasi tentang hidup hingga aku bisa sampai pada tahap ini, kuliah. Di balik kedisiplinannya, ia mempunyai sisi kelembutan yang bisa melunakkan kami sebagai muridnya. Ketika di luar jam pelajaran, ia bisa berbaur dengan kami. Bercanda, ngobrol seperti layaknya teman. Berbeda dengan di kelas, ia menjadi sosok yang penuh wibawa dan disiplin.

“waalaikumsalam, ini nurul kan! Kumaha damang?”sambil menatapku hangat.

“wah ga nyangka ibu masih inget sama saya, jadi terharu! Alhamdulillah damang pisan apalagi udah ketemu ibu..he”

Sebuah suara menyadarkanku..terdengar seperti “ehm..ehm…”

“PARSI……”seketika mata ku pun membesar seperti menemukan harta karun yang sudah lama dicari.

Aku dan parsipun langsung saling berjabat tangan erat dan berpelukan histeris. Orang-orang di sekeliling kami menatap kami dengan tatapan yang heran. “aku tau ini tempat umum, tapi aku tak bisa untuk menahan diri untuk memeluk sahabatku yang lama tak ku jumpai ini” batinku.

“nu, nunu teh masiiih.. ajah suka malaweng”

Aku hanya bisa tersenyum cekikikan dan langsung menimpali “habisnya penampilan kamu yang berubah..”

Parsial Difarain, begitu nama lengkapnya. Ia mengenakan jilbab biru muda dipadankan dengan baju putih bercorak bunga kertas biru dan rok kotak-kotak biru. Terakhir aku bertemu dengannya, tepatnya tahun kemarin di Bandara, ia masih mengenakan kaos pendek dengan jeans yang ketat. Parsi pun seorang yang gigih, ia rela kuliah di USU, universitas Sumatra utara, demi mencapai impiannya menjadi ‘dokter’.

“dua sejoli ini ya kalo udah ketemu, ibu jadi dicuekkin nich!”

“ohh ya enggak donk bu” ucapku dan parsi serempak

“Ibukan guru kami sepanjang masa,ya kan!” rayuku

“yup betul, ibu adalah penerang di kala kami ga bawa lampu, ibu…”tambah parsi.

“kalian ini.., oh ibu harus pergi sekarang,  anak ibu yang kecil sudah menunggu di sekolah, di SD merdeka, ga jauh dari sini”

“o y ga ngajar bu?”

“kebetulan hari ini ga ada jadwal, makanya udah nganter anak sekolah, ibu sempetin gramedia dulu.”

“nu, par, ibu pamit dulu yach. Tetep semangat kuliahnya! Inget orang tua!”

“Siap, bu”

Aku pun teringat dengan kata-kata yang melekat di tembok, sebelah atas papan tulis kelasku waktu kelas 3 sma, diantara foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Yusuf Kalla yang saat itu sedang berkiprah, tersematkan tulisan “Ingat Orang Tua di Rumah”.  Simpel, tapi cukup membuat kami terhenyak ketika memandanginya.

Kami pun berpamitan dengan ibu may, seorang guru yang tak kan kami lupakan. Sayang ada satu kesalahan yang ku lakukan, kadang aku jarang mengerjakan tugas darinya, entah karena aku merasa bisa matematika. Tapi aku selalu dipercaya untuk menjadi wakil sekolah dalam lomba matematika, seperti halnya olimpiade matematika. “Maafkan muridmu ini, Bu!” Suatu kenyataan yang ironis juga, aku masuk sastra bukan matematika. Kebiasaanku membaca dari kecil membuatku mencintai sastra.

“eh, par tadi maaf yach, kelamaan tak nunggu diriku?”

“ya iya lah..masa ya iya donk..”balas parsi sambil merapihkan jilbabnya.

“ya nggak apa-apa, orang sabar disayang Allah dan kamukan sohibku yang teerbaik walaupun kadang nyusahin..enggak dink becanda,.”tambah parsi. Ku timpuk parsi dengan tanganku, ia menyambutku dengan kedua tangannya yang terbuka. Tangan kirinya langsung menggandeng tangan kananku. Kami pun berjalan beriringan

“Nu, lain kali jangan ngaret wae atuh, seorang muslim teh kudu bisa menghargai waktu ! sahut parsi.

“ya, bu ustadzah, alah sekarang mah beda!! Tadi diriquw kejebak macet”

“btw, kapan nu pake jilbab?”

“he.he.kapan yach..! aduh sekarang nunu belum siap!”

“kalo nunggu siap, kapan siapnya atuh nenk! ntar deh aku kasih buku tentang itu. oh yach lagi cari buku apa?”

“Aku lagi cari bukunya lanjutan Senopati Pamungkas, tembang tanah air sama referensi tugas kuliah, biasa ngecek harga dulu..parsi nyari buku apa?”

“ga jauh beda, mau lihat-lihat dulu aja..! mau nyari referensi tugas kuliah, eh tradisi kita tetep ga berubah ternyata”

“tradisi yang mana?”

“ya ini, nyari buku di gramedia, truz belinya di palasari deh!”

“tau aja..he..”

Kami pun berpisah. Aku pergi ke sudut buku Sastra. Sementara Parsi ke sudut kedokteran. Sebelum ke sudut itu, Penasaran dengan PLANG “Buku Baru dan Terlaris”, aku pun menuju tempat itu dahulu.

Semua orang tampak khusyu memandangi buku-buku di atas dipan persegi panjang itu. Ada orang tionghoa dengan kacamatanya yang tebal, sibuk membalik-balikkan lembaran buku sambil berjongkok. Anak SMA yang sesekali memegang-megang dagunya seperti ada janggut padahal tidak ada sama sekali. Ibu-ibu yang menasehati anaknya untuk tak membeli buku yang tak perlu.

Mataku pun tertarik pada buku bersampul merah, tentang optimalisasi otak kanan dan kiri. Segera ku raih buku itu dan  melirik harga yang tertera di balik buku itu . “astagfirullah, 80ribu, meuni mahal!”. Penasaran dengan isinya, segera ku raih buku yang sudah dibuka plastiknya. Matakupun segera menelusuri kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga satu halaman usai…“eh,rame geningan”dalam hati.

Sebelum melanjutkan membaca, aku menuju sudut Sastra dengan membawa buku itu. Mataku pun beredar di antara buku-buku yang terpajang pada rak. Emm, ini dia buku yang ku cari. Dosen ku menugaskanku untuk membuat ringkasan tentang penyair-penyair dari zaman siti nurbaya hingga zaman siti nurhaliza sekarang.  Lagi-lagi aku mengatakan astafirullah setelah melihat harga yang tertera di balik buku itu. Tapi, aku sudah mendapatkan info tentang buku itu, catat!

Aku pun segera berkeliling mencari lanjutan buku senopati pamungkas, tembang tanah air. Buku senopati pamungkas ini terbit pada tahun 1980an. Waktu itu masih berupa buku satuan bersampul warna merah darah dan profil Upasara Wulung dengan mengacungkan kerisnya. Aku mengenalnya lewat tumpukan buku yang ada di rumah, peninggalan ayahku. Karya Arswendo Atmowiloto, pengarang yang cukup terkenal beberapa tahun lalu gara-gara dipenjara oleh Pemerintah Orde baru, ini terdiri atas dua buku hardcover supertebal terutama yang kedua, bisa buat nimpuk maling, superkeren! Arswendo memang dewanya pengarang Indonesia, itu kata temanku. Ratusan halaman tak membuatku lelah untuk membacanya sampai habis. Buku ini cerita silat yang luar biasa keren. Gara-gara buku ini, aku sering dimarahin sama ibu, karena lupa makan, lupa tidur, dan utamanya lupa besok ada ujian he..

Setelah berkeliling-keliling mengitari rak, tak menemukan tembang tanah air, aku memutar haluanku pada tempat duduk yang memanjang di pojok, sebelah ruang security.  Tempat ini ku capai dengan susah payah, setelah menunggu orang-orang untuk meninggalkan bangkunya.

“emm, paling buku tembang tanah air akan ku cari di palasari” batinku.

Di sudut kedokteran, parsi masih berdiri di situ. Memilih satu demi satu buku di rak untuk di ‘cek and ricek’ lalu di kembalikan lagi pada posisi semula. Setelah perjalanan yang panjang menembus batas, akhirnya ia memegang satu buku, berjudul “Biokimia” dan  meletakkan buku itu pada tumpukan buku di bawahnya. Ia bergegas mengambil HP dari saku bajuya, dan memencet tombol-tombol pada keypad, mencatat rincian buku itu. Di tangan kirinya, ia telah memegang sebuah buku dengan latar sampul ‘seseorang pria memegang tongkat di salah satu tangannya, tangan yang  lain seperti terlihat memegang buku’. Buku itu bukan bukunya harry potter loch!

Parsi pun segera memutar kepalanya. Ia berjalan menujuku yang masih terpaku oleh teori-teori ilmiah di buku itu. Selain sastra, aku memang suka hal-hal yang berbau ilmiah. Seketika parsi sudah berada di sampingku.

“Par, ni buku bagus banget, ada angket tentang kita lebih cenderung ke otak kanan atau otak kiri”

“Mana..mau coba donk!”

“Oh itu buku apa?”

“ini bukunya Eko Ramaditya Adikara, judulnya Blind Power, Berdamai dengan kegelapan. Inspiratif  banget. Ia seorang yang terlahir tunanetra tapi sukses menjalani hari-harinya seperti orang normal. Ya dia tuch music composer, blogger, motivator, penulis, wartawan, hingga editor. Kerenkan!”

“Keren, keren!”

“dengan keterbatasannya, ia mampu melakukan hal-hal yang luar biasa dan juga tidak menjadikannya kufur akan nikmat Allah, malah jadi semakin membuatnya bersyukur, menikmati anugrah yang diberikan kepadanya”

“Ehm..nunu juga bersyukuur bgt punya sobat seperti di sebelah ini, wah pasti hidungnya ngapung jauh ke luar angkasa”

“dasar..ya udah sini pengen test otak kanan-otak kiri donk”

Kami pun langsung saling bertukaran buku.        Selama ½ jam kami habiskan waktu untuk membabat buku yang kami pegang secara sekilas, membaca poin-poin yang menarik saja. Sementara para karyawan yang bolak-balik ruang security, mendelik ke arah kami beberapa kali. Sebagian karyawan wanita bergumam “ehm..”, seakan ingin mengatakan “ini bukan perpustakaan”.  Sampai tiba waktu dzuhur, kami pun menghentikan aktivitas kami.

Derap langkah kami pun beranjak menuju singgasana-Nya di arasy.  Dalam kebisingan yang nyata, kami telah berada dalam kesunyian yang syahdu, hanya ada kami dan Dia. Dalam sekat dinding yang membatasi kami, lantunan doa tak hentinya parsi panjatkan, ‘semoga rahmat-Nya selalu tercurah pada tiap detik hidup ini dan berilah hidayah padaku, pada sahabatku, Nurul, pada orang-orang di sekelilingku.’

“Eh neng nurul, gimana kabarnya, meuni udah lama ga ke sini lagi?” Tanya seorang bapak yang ku kenal dari dalam toko. Ia memakai kaos putih berkerahnya disetelkan dengan celana hitamnya. Namanya pak Dadang. Sekarang aku dan parsi sudah berada di pertengahan toko-toko buku yang berjajar di palasari. Toko ini toko langgananku.

“alhamdulillah baik, ya pak kemarin-kemarin teh dananya belum ada, maklum banyak keperluan. Saya juga udah rindu mau ke sini lagi. Bapak sendiri, gimana kabarnya? Gimana tokonya, laris manis pak?

“alhamdulillah kabar bapak juga baik. Ya biasa nenk, di bilang laris nggak, di bilang enggak laris juga enggak, tapi alhamdulillah udah bisa buat keperluan hidup.  Jaman sekarang mah emang serba susah nenk! Oh iya, cari apa nenk?”

“ini pak, ada bukunya tembang kenangan indonesia?” tanyaku lagi.

“oh..lanjutannya senopati pamungkas yach! Bapak juga suka sama ceritanya arswendo itu! Sebentar yach, bapak cari dulu!” Bapak itu pun mulai mengingat-ingat dan meraba ujung buku yang berada di sekelilingnya sambil membaca judul bukunya.

“Sebentar ya nenk” Sang bapak langsung berjalan tergopoh-gopoh ke keluar toko dan menuju arah kanan toko

Parsi yang sudah mendapatkan buku incerannya, Biokimia, terlihat senang.  Aku pun telah mendapatkan buku untuk referensi tugas.

“Nu, tugas dari dosen tentang penyair yach?” Tanya parsi setelah melihat buku yang ku pegang.

“tau puisi ini ga?ini karya yang fenomenal loch, Identity Card!”

Parsi pun mulai berceloteh dengan gaya di puitis-puitisin.

Catat!

Aku orang Arab

Bekerja bersama teman-teman memotong batu

Aku punya delapan anak

Kubawa roti bagi mereka

Pakaian dan buku

Dari batu

Aku tak meminta-minta di depan pintumu

Apalagi merendahkan diri di depan kamarmu

Jadi, marahkah kau?

Aku hanya bisa terperanjat dengan apa yang ia telah ucapkan. Pengetahuanku untuk itu belum terlalu jauh, tapi setidaknya setelah ia mengucapkan nama pengarangnya mahmoud darwish, aku tahu. Hanya saja aku tak ingat bagaimana puisinya. Dua jempol untuknya. Suatu hal yang langka untuknya bisa menghapal bait itu. Ia tak begitu suka sastra. Namun untuk hal-hal yang berhubungan dengan palestina, ia langsung cepat tanggap.

Mahmoud Darwish, seorang pujangga palestina yang dikenal publik lewat gaya tulisannya yang sederhana namun menyentak. Begitu membaca puisi tersebut, para pejuang palestina berkobar-kobar semangatnya, menyiutkan nyali tentara Israel. Bahkan, ariel sharon, mantan pendana mentri Israel yang saat ini sedang sakit keras, terpesona oleh karya peraih Golden Wreath of Struga Poetry Evening tahun 2007 ini. Kini, ia telah pergi ke pangkuan ilahi agustus 2008 kemarin, meninggalkan sejumlah karya yang akan dikenang dalam sejarah.

Selagi menunggu pak dadang datang, seorang dengan jaket hijau hitam datang menghampiriku. Tak ku sangka aku akan bertemu dengannya lagi di sini.

“Oh, tadi siapa ya yang mesan tembang kenangan Indonesia?”

“saya, wing!” kataku dengan wajah yang kaget melihatnya. Tapi ia tak menampakkan sama sekali kekagetannya melihatku.

“oh nunu, lagi kosong nu!”

“Loch, kamu siapanya pak dadang? Pak dadangnya mana?

Sebelum wing meluncurkan kata-kata, Pak dadang telah datang sambil berkata

“eh, neng nurul, kenalkan ini keponakan saya, Toro”

‘Hah, dipanggilnya toro yach!’ Aku cekikikan dalam hati. Nama lengkapnya memang wing gantoro. Hanya saja selama jadi teman masa kecilnya, aku tak pernah mendengar ia di panggil toro.

“nurul” ucapku seakan mengenalkan diriku kembali. Dapat ku lihat sesaat sebelum membalikkan badan meninggalkna toko itu, ia berdeham tak karuan. Ia berisyarat “hilang ingatan yach, pake ngenalin diri lagi!”. Aku hanya tersenyum simpul dalam hati.

Selesai dari tokonya pak dadang, aku dan parsi menuju toko buku-buku bekas yang terletak di awal sebelum masuk jauh ke dalam toko. Aku mau membeli buku untuk mengajar. Aku pun melahap buku-buku bekas sd, smp, dan sma dengan harga yang variasi. Tawar menawar pun terjadi sampai ditemukan harga yang nyaman untuk ku dan penjual. Disini, aku bisa mendapatkan buku pelajaran yang tebel-tebel tersebut sebanyak 4 buah seharga 50ribuan-60ribu. Kalau tukar tambah buku, kita hanya bisa menjualnya seharga 3ribu-5ribu per buku.

Di perjalanan menuju mioku, parsi mengusikku.

“Oh jadi itu yang nunu rindukan!”

“ngga ko, nunu teh baru tau dia keponakannya pak dadang”

“Jangan bohong, dunia ini emang sempit yach”

Sepanjang perjalanan parsi terus menggodaku…

Selain palasari, buku-buku yang menawarkan harga yang murah meriah adalah toko buku emperan di jalan dewi sartika. Tapi kita kudu hati-hati milihnya, salah-salah milih dapat buku yang bajakan deh.

Landmark yang terletak di jalan braga pun menjadi pilihanku dalam memborong buku untuk hari-hari special tertentu, yaitu setiap 6 bulan sekali. Menyisir jalan sekitar landmark, yaitu sepanjang braga, memilin emosiku seakan bukan di Indonesia, mungkin karena itulah bandung sering dijuluki pariz van java.

Gerimis yang turun di sore hari kamis ini membuihkan cahaya-cahaya langit. Tetesan-tetesan yang jatuh ke bumi lenyap terserap oleh sari tanah, mengalir melalui saluran-saluran pipa yang bermuara ke laut. Laut akan memisahkan aku dan parsi kembali. Lusa, ia akan kembali ke cita-citanya, menggapai sebuah impian, begitu pun aku.  Sebelum berangkat,  ia telah menepati janjinya, ia memberiku sebuah buku tentang jilbab. Di awal buku itu hanya tertulis

“dari sahabatmu,

 

Parsial  Difarain,

I Luv U Coz  Allah

I will miss u!

Take care this book!”

Setelah mengubrak-abrik milis,akhirnya ku temukan puisi yang semapt ku postkan ini,

 

Puisi ini lahir dari kata-kata yg masih terukir di benak saya dari pelatihan menulis waktu tingkkat1. Inspirasinya lahir juga dari keseharian saya yang bergelut dengan rumus,tergerus
kapur barus yg halus dalam dus,hingga saya berada di bus.

> Bereuforia dalam limit tak terbatas,
> Laksana menari-nari dengan milyaran angka,
> Seperti mgnet,
> Menarikmu untuk terjun mendekati nol,
> Putarn serabut neuronmu pun menjelajahi domainmu,
> Seakan membca tulisan yg belum pernah kau tulis,
> Melihat lukisan yg belum pernah kau lukis,
> Sst..
> Satu suara memecah keheningan yg real,
> Suara itu hny berbisik “Ada ALLAH di Hatimu”

jika integral itu tak hingga,

aku tetap akan menemukan-Nya,

dalam batasan tak bertepi selalu mengesakan-Nya.

Jika turunan itu dalam,

aku akan tetap ada.

karena aku adalah partikel x pangkat suku banyak di alam ini.

aku dan sinarku berada dalam satu garis lurus,

bersama dengan bidang-bidang lainnya dalam arah yang sama,

sebangun tapi tak kongruen,

begitulah aku dan semesta berjalan dalam grafik yang lurus.

kadang ku menikung tajam sehingga gradienku berubah,

begitu sulit mempertahankan kedudukan dalam bangunan tiga dimensi.

suatu saat gradienku akan berhimpit dengan sumbu x,

tak lagi ada integral ataupun turunan,,

aku akan benar-benar menyatu lebur dengan sumbu x,

tapi..

catatlah..saksikanlah..

“sinarku tetap akan ada di alam semesta ini bersama sinar-sinar yang ada sekarang”

Arghhhh….

Matanya sayu menatap monitor yang menyala dari tadi. Sudah 3 jam, ia berada di depan mesin canggih berkapasitas 80 Giga Byte. Tapi sayangnya, mau  mesinnya dimasukin banyak program-program yang superdasyat juga ga bakalan muat. Soalnya ramnya kecil, udah ketinggalan zaman banget pokoknya. Maklum ga pernah di update. Yach sama mandetnya dengan pikirannya yang ga ngalir-ngalir di keyboardnya. Nulis 7 kata terus di hapus, nulis 1 kalimat  ludes lagih, begitu seterusnya. Jadinya selama bersemedi, ia hanya mendapatkan 3 paragraph aja, ga lebih, ga kurang.

“Ario,, ayo donk masa kaya gini aja kamu ga bisa” pikirnya dalam hati.

Ia pun mulai mendapatkan ilham dari mang baso yag lewat tadi. Ketukan khas baso malang, telah mengirim sinyal pikirannya ke arsitektur mesjid yang ia datangin waktu takbiran tahun kemarin.. tapi lagi-lagi ia sulit untuk menumpahkan isi pikirannya dalam tuts-tuts keyboard. Seliweran senandung lagu yang mengalun dari soundsspeaker malah ngingetin dya ma ‘Lulu’, seorang gadis yang telah sukses mengoyak hatinya. Ganti lagu, channelnya pun ganti lagi, ia sekarang inget dosen pembimbing.. ia pun segera mengetik cepat, ga terlalu peduli dengan yang ia tulis, yang penting ia terus menulis…

Remindernya manggut-manggut kecapean ngingetin waktu batas nulisnya. Tapi emang yang namanya nulis ga bisa pake waktu. Mesti ngalir tergantung kelancaran pikiran. Sementara itu jam udah nunjukin pukul 11,, waktu pun terus bergulir hingga tak terasa sudah pukul 1.30malam. dan akhirnya ia telah menyelesaikan 1 bab. Yang ia ingat, ia harus tidur sekarang, siap-siap untuk ngasih file itu besok ke dosen pembimbingnya. Niat solat isya yang dinanti-nanti pun urung karena badannya telah lelah, diporsir deadline tugas.

Esoknya..

Jam weker berdering keras, bahkan ayam pun sahut menyahut lewat jam weker yang satu lagi. Ario tetap memjamkan mata, bahkan mematikan weker. Ketika ia terbangun, jam udah nunjukkin pukul 6.30 ia pun bergegas meloncat untuk mandi seadanya.. makan terburu-buru. Ambil buku-buku kuliah yang masih tergeletak di tempat tidur dan tergesa-gesa berlari  menuju kampus.. solat seadanya, ia lupa bahwa waktu jam segitu solatnya tak akan diterima Allah, karena matahari telah sampai pada peraduannya. Sudah dua hari ini, ia kehilangan dua kali solatnya. Dunia telah begitu menyibukkannya.

Selang beberapa menit, Ario telah sampai di kampusnya, Universitas Harapan Indonesia. Jarak antara rumah dan kampusnya memang tidak terlalu jauh, hanya buth jalan kaki 20menit. Dengan langkai yang gontai karena begadang semaleman, ia pun berjalan menuju ruangan dosen. Tangan kanannya memegang beberapa tumpuk kertas HVS yang bertuliskan kata-kata ilmiah. Melihat dosen yang belum dateng, ia bersandar pada dinding di sebelah ruangan dosen tersebut. Waktu pun berlalu, 30 menit.. Tiba-tiba datanglah seorang bapa-bapa yang dengan gaya khas para dosen memegang setumpuk file ditangannya. Ario kita bapak-bapak itu akan memasuki ruangan dosen, tapi ternyata tidak. Bapak itu malah mendekati ario dan bertanya..

”Sedang menunggu Pak Ahmad?”

”Oh iyah pak” sahut ario

”Sudah dateng belum”

”Sepertinya belum pak”

”Mungkin sebentar lagi”

”Datang dari jam berapa?”

”Saya dari jam8an pak” Ujar ario yang tak mau keduluan bimbingan

”Oh.. saya juga mau ketemu pak ahmad”

”Bapa mahasiswanya?”

”Iya”

Ups ternyata bapak tersebut adalah mahasiswa S2. Belum juga 5 menit pembicaraan itu usai. Seorang bapak-bapak berkumis khas tengah datang menghampiri. Ia menyapa bapak-bapak yang tengah mengobrol dengannya tadi.

“Pak, pak Ahmadnya ada?”

“Oh, belum, ngantri pak!” Seru bapak itu juga yang tak mau keduluan bimbingan. Ario yang mendengar hanya cekikikan dalam hati. Bapak berkumis pun langsung meninggalkan kami yang tak beranjak sejak 40menit sebelumnya. Selama waktu menunggu itu, Ario hanya memandang kesana kemari. Melihat beberapa mahasiswa yang hilir mudik di kampus, naik ke ruang atas, turun ke lantai bawah. Begitulah, tidak ada kegiatan bermakna yang dilakukannya selain itu. Sesekali ia melihat jam ditangannya yang tak berhenti berdetak, seiring dengan detak jantungnya yang lelah menunggu kedatangan dosennya. Waktu pun terus bergulir, 1jam, 1jam setengah, sampai akhirnya 2 jam. Beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi dosennya tapi beberapa kali juga ia mengurungkan niatnya. Ia teringat kejadian yang pernah menimpanya berkaitan dengan telepon. Beberapa kali ia ditegur oleh dosennya karena ketidaksabarannya dalam menunggu.

Karena jenuh, bapak yang disampingnya pun membuka pembicaraan kembali.

“ada sms tidak jadi atau tidaknya bimbingan?”

”belum ada pak”

”oh saya tidak bawa hp”

”biasanya kalau tidak jadi bimbingan, pak ahmad suka sms konfimasi”

”begitu ya”

”tidak berani telpon?”

”ditungggu saja pak”

Saat ini waktu tengah menunjukkan pukul 10.30, tapi pak Ahmad belum dateng juga. Bapak berkumis pun datang kembali.

”Pak belum dateng?”

”Belum pak”

”lagi ngisi kuliah gitu ya di pasca?”

“kurang tahu juga pak”

”Saya juga lagi menunggu pak ahmad pak, pak ahmad itu kalau tidak salah mengisi kuliah di s1 pak jam 10.40” ujar ario yang langsung menengahi.

“Oh memang sudah mulai perkuliahan ya?”

“kan ini semester pendek pak”

Begitu tahu, pak ahmad akan mengisi kuliah sebentar lagi, bapak berkumis itu tidak beranjak pergi seperti sebelumnya, ia langsung menempati posisi strategis dekat ruanganya pak ahmad.

Di belakang, datang lagi seorang bapak yang kepalanya hampir beruban semua. Bapak itu mendekati bapak berkumis itu. Mereka pun asyik mengobrol. Dari pembicaraannya Ario tahu bahwa bapak beruban itu sedang menunggu Pak ahmad juga.

”Wah semakin banyak ini yang menunggu  pak Ahmad” ujar ario dalam hati. Ario yang tak mau kalah posisi segera menggeser posisi duduknya menjadi berdiri di didekat ruangan pak ahmad. Begitupun dengan bapak yang sejak dari awal menunggu bersama Ario.

”Gimana udah sampai mana tesisnya” ujar bapak berkumis

”yah ini masih banyak revisi”

”iya saja juga, tapi kalau saya tinggal sedikit lagi”

…………………………………………………………………………………….

”pak, tau tidak dikampung saya gelar doktor itu masih sedikit”

”iya, sama saja di kampung saya juga begitu”

”tapi ya memang gelr itu tidak akan dibawa ke akhirat”

…………………………………………………………………………

Begitulah pembicaraan itu mengalir dari topik yang satu ke topik yang lain. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 11, tapi pak ahmad belum dateng juga. Kedua bapak yang sedang mengobrol pun satu persatu meninggalkan Ario dan bapak yang menunggu bersama ario sejak awal. Niat Ario yang ingin solat duha menjadi urung karena khawatir keduluan bimbingan.

Begitulah Ario terus menunggu sampai jam12 tanpa melakukan aktivitas yang berarti. Ia hanya memandang orang yang berhilir mudik, naik ke atas dan turun ke bawah. Ario pun terus menunggu sampai batas jam2. Ia telah melewatkan waktu utama solat dzuhur. Mengutamakan aktivitas duniawi ketimbang ukhrowi. Pada akhirnya ia pun mendapatkan sms bahwa pak Ahmad tidak bisa membimbing hari ni, karena adiknya yang masih SMA meninggal dunia. Setelah mendapat sms itu, ario pun tergerak untuk solat.

………………………………………………………………………………………………………….

Sering kali, ketika adzan berkumandang, memanggil orang-orang Islam untuk menghadap kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hanya beberapa orang yang tergerak untuk menunaikan ibadah wajib tersebut. Astagfirullah…Astagfirullah..Astagfirullah……. Padahal Allah tidak mewajibkan suatu hal kepada kita melainkan untuk kebaikan kita juga. Kebanyakan orang sibuk dengan aktivitas duniawinya, melalaikan aktivitas untuk hari akhirat. Kesibukan dunia tidak akan mampu menolong perhitungan amal di akhirat, terlebih harta, pangkat, jabatan ataupun gelar. Ketika kita mengejar dunia, maka kita akan benar-benar disibukkan oleh urusan dunia hingga tidak tersisa waktu untuk urusan akhirat. Tapi ketika kita mengejar akhirat, urusan dunia seakan kecil dihadapan kita, karena ada Allah yang Maha Kuasa untuk membantu kita…

Mari bersungguh-sungguh untuk urusan akhirat, terlebih di bulan ramadhan ini, bulan yang menjanjikan banyak ampunan dan rahmat-Nya…bulan paling spesial diantara bulan-bulan lainnya………. 10 hari terakhir bulan ramadhan ini akankan kita lewatkan begitu saja…..????!!!!!!!!!!!

Wallahualam….