Kita dan ..

Archive for the ‘Kita dan Al-Quran’ Category

Bismillah..

 

Walaupun telat mengerjakan PRnya tidak mengapa.

PR pertama dari materikulasi institut ibu profesional ini membuat saya menjadi feedback kembali kepada goal atau tujuan fokus utama saya.

Kalau ditanya apa yang menjadi jurusan ilmu yang akan saya tekuni, maka saya akan jawab “AL QURAN”.

Walaupun saya saat ini interaksinya dengan  Al Quran drop saat sudah memiliki anak, mungkin masih masa penyesuaian dengan tugas tugas rumah tangga. Tapi saya yakin ke depannya saya pasti bisa.

Alasan terkuat kenapa saya akan menekuni Al Quran, bukan yang lain. Karena saya merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap Al Quran. Saya merasa harus mempertahankan apa yang telah saya raih yaitu dalam proses penghafalan Al Quran. Saya malu dengan Allah yang telah memberi saya karunia berlimpah dalam hal ini tapi saya masih menyia-nyiakannya. Saya merasa dosa besar jika saya membiarkan Al Quran.

Adapun strategi yang harus saya lakukan:

  1. Tilawah rutin

Tilawah merupakan hal yang tidak dapat disingkirkan dari proses penjagaan al Quran. Tapi akhir akhir ini banyak sekali hambatan, terutama yang berasal dari diri saya. Saya jadi sering urung uringan karena ketidakbisaan saya untuk memanajemen waktu yang ada, sehingga apa yang diharapkan jauh dari kenyataan yang ada. Semoga Allah menjaga tangan dan hati saya dari emosi yang meledak, terutama bila dilampiaskan kepada yang lain khususnya anak. 😭

Mungkin saya akan mulai sedikit demi sedikiy dulu.  15menit setelah solat fardu.

2. Murajaah.

Hal ini juga harus saya perhatikan kembali. Betapa banyak waktu saya terbuang percuma, tidak ada esensi dzikrullah, apalagi murajaah. Ya Allah.. sedih.. 😣😣😣

waktu paling efektif untuk murajaah adalah menjelang malam dan sebelum bangun subuh karena saat itu anak anak sedang tidur. Semoga Allah mudahkan..

3. Halaqaah

Sudah lama sejak anak kedua lahir.  Saya jarang sekali hadir dalam majelis ilmu. Saya selalu merasa percuma untuk datang ke sana karena  saya jarang merasa fokus. Jangankan mendengarkan materi, yang ada kesibukan untuk mengejar anak ke sana dan kesini, terutama anak pertama. Karena anak pertama ini sangat kinestetis sekali.

Saya masih mencari solusi agar saya bisa hadir di majelis ilmu bersama anak anak. Mungkin saat ke sana, anak saya,kakang, perlu teman bermain atau saya bawakan mainan dari rumah ya seperti pensil gambar dan buku gambar.

3. Tasmi (mendengarkan hafalan orang lain)

Salah satu hal wajib yang perlu  diagendakan oleh orang yg ingin tetap berinteraksi dengan Al Quran adalah tasmi. Tasmi termudah tanpa keluar rumah adalah mendengarkan hafalan Al Quran lewat murattal ataupun video. Selain untuk menguatkan hafalan juga memotivasi untuk selalu dekat dengan Al Quran. Mungki  akan dimulai dengan memperdengarkan murattal setiap hari.

4. Banyak membaca buku terkait dengan Al Quran

Jikalau lingkungan tidak mendukung, misal orang terdekat jauh dari Al Quran. Tidak ada kata tidak untuk tidak menambah ilmu agar lebih semangat.

5. Sabaar..

Mendekatkan diri degan Al Quran bukanlah sebuah prose yang mudah. Betapa sering diri drop akibat ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga emosi sering meluap. Apakah itu seorang Ahlus Quran? Jauhhhh.

Betapa diri sering merasa down saat mau mendekatkan diri pada Al Quran, tapi seringkali banyak omogan nyinyir dari orang terdekat. Baca Al Quran tapi kok akhlaknya masih jauh Al Quran. 😭😭

Sedih saya. Ya bertahap toh. Karena akhlak adalah pencapaian paling tinggi dari sebuah keimanan.

Berbagai benturan itu sering kali menghambat saya membuat saya depresi sehingga seringkali saya tidak percaya diri untuk melanjutkan proses ini.

6. Berdoa

Hal ini yang paling penting kata saya. Apalah usaha saya kalau tidak dibarengi dengan doa. Doa agar niat saya selalu lurus tidak melenceng. Doa agar Allah senantiasa menjaga hafalan saya. Doa agar Allah senantiasa membaguskan akhlak saya. Doa agar Allah senantiasa selalu berinteraksi dengan Al Quran.

Mungkin pencapaian saya saat ini terkait Al Quran berada dalam masa turun, turun sekali.

Saya harus bisa memanajemen lagi waktu yang ada.

Jadi sikap yang harus saya perbaiki terkait proses interaksi dengan Al Quran

  1. Sabaar lagi, harus sabar untuk berlama lama dengan Al Quran
  2. Ikhlas, karena hanya Allah semata
  3. Optimis, apapun nyinyiran kata orang ataupun aktivitas yang sibuk jadikan batu loncatan untuk lebih baik lagi.
  4. Menjaga wudhu, semoga bisa.
  5. Udah dulu aja..

 

Ya Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘alaa diinik.

Ya Muqallibal Quluun, Tsabbit Qalbi ‘alaa hifdzil kitaabikal kariim.

AAMIIN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekedar berbagi..

Kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana perjalanan saya dalam menghapal quran di tengah kesibukan, khususnya untuk teman-teman yang merasa menghapal al-quran itu berat dan susah.

Baiklah, awal saya menghapal quran, target awal saya menghapal quran itu sebenarnya sederhana. Saya hanya ingin hapal 1 atau 2 juz. Saat itu, menghapal 1/2 halaman di tengah kesibukan kuliah, susahnya minta ampun. Teriring niat yang tidak ikhlas, menghapal itu menjadi sulit. Karena niat yang tidak ikhlas tersebut, saya sering kali menyiapkan hapalan ketika besoknya harus setoran. Begitulah keadaannya. Hapalan hanyalah menjadi rutinitas. Makna ayat yang saya baca tidak saya resapi. Saya hanya menghapal ayat al-qurannya saja tidak dengan artinya. Kalau istilah zaman sekarang itu hapal cangkem.

Seiring dengan waktu, saya bertemu teman-teman yang subhanallah memacu saya untuk lebih baik. Di halaqoh Salman, saya bertemu seorang akhwat yang hapalannya itu sudah sampai 7 juz, terlebih ketika beliau masuk pondok tahfidz yang mukim. Dalam waktu sekian bulan, beliau dapat menyelesaikan hapalannya. Lalu akhirnya menikah. Saat itu, saya berpikir wajar kalau akhwat tersebut dapat menyelesaikan hapalannya dalam waktu singkat, beliaukan mondok, pikir saya yang hanya mencari-cari alasan. Karena itu, saya kurang termotivasi.Walaupun begitu, hal ini membuat saya untuk bertanya dengan penasaran “bagaimana cara menghapalnya?” “kalo saya menghapalnya dengan artinya teh”.Dalam hati, saya berkata ‘wajar, dia kan lulusan pesantren, jadi ngerti bahasa arab dikit-dikit”. Lagi-lagi saya beralasan.

Walaupun begitu, akhwat tersebutlah yang memperkenalkan saya dengan pondok tahfidz tersebut. Pondok yang merubah saya menjadi lebih baik dalam berbagai hal, khususnya niat. Di pondok ini, saya bertemu dengan anak SMP, anak SMA, teman kuliah, ibu-ibu dsb.. yang sama-sama ingin menghapal al-quran. Dari pondok inilah, saya baru sadar tahsin saya sangat  jelek yang mengakibatkan hapalan saya sempat berhenti di tengah jalan. Salah baca huruf bisa salah arti. Berkat hal ini, saya pun semangat untuk mengikuti kursus belajar tahsin. Dari pembelajaran tahsin, sering disinggung belajar baca al-quran sesuai kaidah adalah kewajiban muslim, bukan agar suara menjadi indah. Sejak saat itu, saya  coba untuk terus memperbaiki niat. Belajar ilmu kalau gak ikhlas ya sia-sia seperti fatamorgana di padang pasir, seperti banyak padahal gak ada apa-apa. ilmu ikhlas itu emang belajarnya harus seumur hidup, ntah berapa SKS yang harus dihabiskan untuk lulus ilmu ikhlas kalau ilmu ikhlas ada di kuliah.

Ada banyak perubahan yang saya rasakan sejak tahsin saya membaik dan upaya saya dalam memperbaiki niat. Sejak saat itu, saya dapat menghapal al-quran dengan lebih mudah. Saya mencoba menghapal dengan artinya. Saya memakai al-quran terjemah per kata karena jujur saya kurang ngerti bahasa arab. Hapalan saya pun tidak dadakan lagi seperti sebelumnya. Setoran hapalan sudah saya persiapkan beberapa hari sebelumnya. Tiap hari kerja, saya mencoba menghapal ayat baru, esoknya ayat yang sudah dihapal akan coba saya ulang berikut dengan menghapal hapalan baru. Apalah artinya menghapal kalau hapalannya hanyalah bertahan sehari lalu besok hilang. Saat itu saya setoran beberapa halaman, maksimal sekitar 5 halaman. Saat itu teman reguler pun yang paling maksimal menyetorkan hapalan al-quran itu sekitar 5 halaman atau 6 halaman. Teman reguler adalah teman yang menyetorkan hapalan quran seminggu sekali. Saat itu, saya merasa berada di zona nyaman. Saya merasa belum yakin untuk bisa setoran 1/2 juz hapalan baru. kalau mukim bisa sampai 1/2 juz ya itu wajar, lagi-lagi beralasan.  Hingga akhirnya, datanglah seorang ibu-ibu yang tiap kali stor itu ko lama banget ya.. wuishh.. ternyata setorannya 1/2 juz. Saat itu semangat saya tersulut. Ibu rumah tangga aja bisa, insyaAllah saya juga bisa. Saat saya tanyakan bagaimana cara menghapalnya. Ibu itu menjawab bahwa ibu tersebut ketika sedang menghapal al-quran, beliau  akan terus menghapal sampai cape. Saya mencoba mempraktekkan hal tersebut dan ternyata saya bisa setoran 1/2 juz. Wihh.. gembira banget sejak itu, tapi sayangnya belum konsisten. Untuk melakukan sebuah perubahan yang berarti, kita harus mengubah sudut pandang kita. Yup semuanya berawal dari pikiran.

Waktu bulan puasa, saya dengar kabar lagi saat saya tidak hadir halaqoh, katanya ada santri reguler yang dapat tilawah 10juz, padahal beliau punya aktivitas yang padat. Saya belum tersulut semangatnya karena saya belum bertemu dengan orang tersebut. Saya mencoba mengutak-ngatik pikiran “kok bisa yaa” “gimana caranya”.. tilawah harian dan murajaah  saya aja belum bisa konsisten jumlah hal yang dibacanya..wah ini 10juz.. doakan saya ya wahai pembaca! semoga untukmu juga seperti apa yang kau doakan.

Adapun terkait dengan kemudahan dalam menghapal al-quran, saya yakin setiap orang yang diberi kemudahan oleh Allah dalam menghapal al-quran, orang tersebut pasti melakukan suatu amal baik yang membuatnya mudah dalam menghapal. Teringat juga dengan nasihat ustadzah pembina saya, semakin banyak hapalan harusnya semakin banyak amal baik. Kenapa? Saya baru sadar akan hal ini ketika saya mengajar baca quran untuk anak-anak di mesjid sekitar rumah. Saat saya hanya mengajar sekitar 2 kali seminggu, saya hanya bisa setoran sekitar 5 hal. Akan tetapi saat saya mengajar 1 pekan ajar, alhamdulillah saya bisa setoran 1/2 juz minggu tersebut.

 

Intinya,  untuk membuat sebuah perjalanan menghapal quran itu menjadi mudah dan indah, kita harus

1. meluruskan niat hanya karena Allah.

2. tahsinnya harus baik.

3. mengulang kembali ayat yang dihapal pada hari sebelumnya sebelum menghapal ayat baru.

4. menyediakan waktu khusus untuk menghapal quran, murajaah dan tilawah.

5. menghapal ayat berikut artinya (permudah dengan al-quran terjemah per kata)

6. berada dalam komunitas penghapal quran yang niat menghapal 30juz, sehingga dapat saling memotivasi.

7. menyiapkan ayat yang akan disetor  jauh-jauh hari sebelum setoran.

8. melakukan amal baik, semakin banyak, semakin bagus.

 

sekian.

semoga bermanfaat untuk semua, khususnya mengingatkan saya.

haturnuhun. =D

Baiklah, kali ini saya akan bercerita awal mula saya menghapal al-quran.

Saat itu, di taman Ganesha, Salman ITB, lingkaran-lingkaran manusia tersebar. Di atas tikar, anak-anak sedang berkumpul dengan kakak-kakak kelompoknya. Saat itu, saya mendengar seorang anak yang sedang membacakan salah satu surat dari juz 30. Jlebbbb.. maluuuu banget..”aku belum hapal surat itu”. Terlebih ketika ibu sang anak bercerita bahwa hapalannya anaknya sudah sampai surat ini.. kebetulan anaknya memang belajar di sekolah islam. Seketika saya pun bercermin. Saat itu, saya sampai kuliah  baru hapal sampai surat yang pendek-pendek. Parahhh!!! Plus Maluu! Orang tua anak itu nyerita bla..blaa..blaa.. saya cuma mesem-mesem aja. Dari situ.. ngerasa gerahhh banget. Masa kalah sama anak kecil.

Ditambah lagi, waktu kuliah kerja nyata (KKN), temen yang tugas bareng KKNnya nyeletuk “ada perempuan yang kerudungnya biasa aja(maksudnya kerudungnya ga kayak makhluk yang sering disebut akhwat-kerudungnya panjang alias jilbab) tapi hapalannya bisa sampai 2 juz entah 1 juz (lupa)”. Dari situ, saya ngerasa kesindir banget.

Eh kebetulan, di Salman, tempat saya beraktivitas, ada program tahfiz gratis untuk mahasiswa, tanpa pikir panjang, saya langsung ikutan. Jujur, awal ikutan, niatnya salah. Ga ikhlas. Biar ga kalah sama anak-anak kecil. Biar ga malu kalo kerudungnya panjang. Biar nanti begitu lulus udah punya bekal untuk kerja. Kebetulan pengen ngajar di sekolah islam. Ataupun ingin dapet suami soleh. Parah nian ini niat. Alhamdulillah, semakin bertambahnya hapalannya saya, Allah pun menyadarkan saya untuk meluruskan niat saya.

Salah satunya Allah menyadarkan saya melalui nasihat ustadzah-ustadzah pembina saya.

Beberapa berkas memori yang mengertak saya yaitu

“yang penting bukan banyaknya hapalan, tapi kualitas hapalan itu”

“menghapal quran kalo niatnya ga ikhlas itu sia-sia”

“hapalan itu harusnya bisa melindungi diri dari berbagai maksiat kalo niatnya ikhlas”

“telinga, mata, dan ucapan harus dijaga, karena ini adalah kalam Allah.. Cahaya Allah tidak akan masuk ke pelaku maksiat”

… ya begitulah

begitupun dengan buku-buku yang saya baca terkait hapalan quran, semakin menyadarkan saya untuk meluruskan niat.

Saya pun segera bercermin. Hapalan saya hanyalah seperti debu jika niatnya salah. Saya hanya akan mendapatkan apa yang saya niatkan, tapi tidak dengan ridho Allah jika saya tidak ikhlas. Hapalan ini hanyalah berbekas di lisan tapi tidak di hati saya  jika saya tidak ikhlas. Semuanya hanya akan sia-sia atas pejuangan yang melelahkan ini jika niatnya tidak ikhlas.

teringat sebuah hadis

Abu Hurairah meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?”     Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.”          Allah berkata, “Kamu bohong.Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Sang Pemberani.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca al-Qur’an didatangkan dihadapan Allah. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca al-Qur’an demi mencari ridhamu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca al-Qur’an.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?”              Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.”   Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka. Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)

(hadis diambil dari http://globalkhilafah.blogspot.com/2011/08/celaka-mati-berjihad-rajin-sedekah-baca.html)

Ya Allah, ajarkan saya ikhlas yang tidak berbatas dalam niat dan aktivitas saya hingga ajal menjemput. aamiin

 

 

Hari ini saya searching bacaan al-quran di internet, tepatnya di you tube,

subhanallah bacaan yang saya temukan sungguh indah.

saya tidak dapat membendung air mata saya untuk tidak menangis.

kalo saya bertemu dengan orang-orang seperti mereka, betapa beruntungnya saya.

Ya Allah perkenankan saya juga dan keturunan saya kelak untuk melantunkan ayat-ayat suci-Mu seindah mereka, orang -orang yang telah Kau pilih untuk menjadi keluarga-Mu di muka bumi ini. Izinkan kami untuk mengumpulkannya dalam dada kami dan melaksanakannya dalam amalan harian kami. aamiin

Menginjak hapalan yang sudah cukup banyak, jujur saya bingung. Saya seperti kehilangan arah. Ntah apa yang harus saya lakukan jika saya sudah khatam. bagaiman penjagaan saya terhadap ayat-ayat al-quran ini. Ayat-ayat yang sudah saya hapal juga banyak yang ketuker dan kabur, karena saya kurang menjaganya.

Akhirnya saya menemukan tulisan ini yang saya ambil dari http://nikenpuspitasari.wordpress.com/2012/02/25/wirid-harian-penghafal-al-quran/

———————————

“Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap)maka yang harus dilakukan adalah menjadikan Al-Quran sebagai wirid harian hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam semasa hidupnya, beliau membagi al qu an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.”

—————————————–

Lalu bagaimana cara membaginya. Di blog tersebut dijelaskan:

————————————————

Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: “Kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)”. (HR. Ahmad).

Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:

  1. Hari pertama: membaca surat “Al-Fatihah” hingga akhir surat “An-Nisa’”,
  2. Hari kedua: dari surat “Al-Maidah” hingga akhir surat “At-Taubah”,
  3. Hari ketiga: dari surat “Yunus” hingga akhir surat “An-Nahl”,
  4. Hari keempat: dari surat “Al-Isra’” hingga akhir surat “Al-Furqon”,
  5. Hari kelima: dari surat “Asy Syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”,
  6. Hari keenam: dari surat “Ash-Saffatt” hingga akhir surat “Al-Hujurat”,
  7. Hari ketujuh: dari surat “Qaaff” hingga akhir surat “An-Naas”.

Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: ” Fami bisyauqin ( فم ي ب شوق ) “, dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya, maka:

  1. huruf “fa” symbol dari surat “Al-Fatihah”, sebagai awal wirid beliau hari pertama,
  2. huruf “mim” symbol dari surat “Al-Maidah”, sebagai awal wirid beliau hari kedua,
  3. huruf “ya” symbol dari surat “Yunus”, sebagai wirid beliau hari ketiga,
  4. huruf “ba” symbol dari surat “Bani Israil (nama lain dari surat al isra)”, sebagai wirid beliau harikeempat,
  5. huruf “syin” symbol dari surat “Asy Syu’ara”, sebagai awal wirid beliau hari kelima,
  6. huruf “wau” symbol dari surat “Wa Shaffat”, sebagai awal wirid beliau hari keenam,
  7. huruf “qaaf” symbol dari surat “Qaaf”, sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat “An-Naas”.

Ini tidak seperti pembagian hizb seperti sekarang ini dengan dengan membuat pemberhentian (waqaf) terhadap beberapa ayat yang bersambung dengan ayat sesudahnya, kemudian seorang qori membacanya lagi pada hari berikutnya dengan memulai bacaan yang diikutkan dengan bacaan sebelumnya.

Misalnya memulai dengan kalam Allah, “wal muhshonaati minan-nisaa-i.. ” pada permulaan juz ke-5. Padahal ini adalah ayat yang masih satu tema dengan akhir juz ke-4. (ceritanya belum selesai ko sudah dipotong.. karena sudah beda juz..  )

Oleh sebab itu, pembagian hizb (tahzib) dengan surat secara lengkap lebih utama daripada pembagian hizb dengan juz. Ini merupakan salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.

Bagaimana jika kita belum mampu melaksanakan hizb Nabi di atas?

Kita harus melalui tahap-tahap agar dapat mencapai derajat yang tinggi tersebut, yaitu:

Fase 1: mengulangi seluruh hafalan selama 3 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 2: mengulangi seluruh hafalan selama 1,5 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 3: mengulangi seluruh hafalan selama 1 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 4: mengulangi seluruh hafalan selama 1/2 bulan. jika sudah bisa maka bisa naik ke fase berikutnya, yaitu:

Fase 5: mengulangi seluruh hafalan selama 7 hari, seperti hizb Nabi di atas.

Jika kita sudah berusaha keras dan belum bisa mencapai tingkatan fase ke-5 ataupun fase ke-4, maka paling tidak kita terus bertahan di fase ke-3 (mengkhatamkan hafalan qur’an 30 selama sebulan). Disarankan tidak kurang dari ini hingga Allah mengaruniakan nikmat-Nya kepada derajat yang tinggi di dunia dan akhirat, insya Allah.

= = = =

Sumber tulisan di blog http://nikenpuspitasari.wordpress.com/2012/02/25/wirid-harian-penghafal-al-quran/:

– Revolusi Menghafal Al-Qur’an (buku terjemahan), karya Ustadz YahyaAbdul Fattah Az-Zawawi

– rizkafitri.wordpress.com

—————————————————————————————–

nah, kalo buat saya yang hapalannya belum kuat: minimal saya bisa baca al-quran dengan melihat mushaf berdasarkan pembagian surat-surat di atas yang dikhatamkan setiap seminggu sekali. Ya itung-itung latihan kalo khatam, jadi sudah ingat pembagian suratnya. Gimana dengan murajaah ayat-ayat yang sudah dihapal.. ini dia persoalannya. Saya sangat butuh doa banyak orang untuk menjaga hapalan saya. Mohon doakan!

ini Dilema..

Di samping niatku untuk menuntaskan azamku yaitu menghapal al-Quran, aku terusik oleh satu hal yaitu drama korea yang tampil di TV.

Berawal dari ketidakisengan menonton selingan TV yang ujungnya jadi keterusan penasaran. Padahal sebelumnya sudah vakum menonton drama korea.

Hal ini cukup membuat kacau hapalanku.
sungguh berat rasanya di situasi tidak kondusif seperti ini. aku harus menjaga pandanganku, telingaku, kata-kataku,hatiku dari semua yg dilarang oleh-NYA.
akankah MIMPI itu TERWUJUD?

karakteristik al-Quran
– kitab ilahi
– terjaga dari kesalahan
– jelas dan mudah
– sumber dari seluruh ajaran agama
– berlaku untuk setiap manusia
– di setiap zaman

proses pewarisan bacaan al-Quran: talaqi(dari mulut ke mulut)

interaksi dgn al-Quran
– tilawah
– menghapalkan
– memahami
– menghapalkan

tahfidz:
– ikhlaskan niat
– cari waktu tepat
– perbaiki bacaan
– ulang 20kali
– setor

efek al-Quran
– mnenangkan hati
– mencerdaskn pikiran
– memotivasi amalan
– meneguhkan hati

ust faris jihadi lc

6-8-2011