Kita dan ..

Materi Seminar Parenting ‘Pornografi, Sahabat Baru Anak?’

Posted on: 11 Juli 2012

 

Subhanallah hari itu saya dapat pencerahan yang luar biasa dari seminar parenting tentang pornografi. Sebuah seminar yang dibuat oleh sekumpulan orang tua sekolah alam. Awalnya saya kira hanya seminar biasa tentang pornografi, tapi saya mendapatkan banyak ilmu lebih dari apa yang saya bayangkan.

 

Sebelum memulai pembahasan lebih jauh tentang materi seminar ini, kenapa mesti pornografi yang dibahas? Kenapa?

Karena….

Ranah ini telah meluas bukan hanya kepada orang dewasa, tapi sudah memasuki dunia remaja bahkan anak usia dini.

Sudah banyak kasus pelecehan seksual, perkosaan yang dilakukan oleh anak-anak. Ini real terjadi di Indonesia. Salah satu faktornya karena anak-anak ini melihat gambar-gambar porno, bahkan video porno, baik sengaja ataupun tidak sengaja. Buktinya silahkan cek di mang google… Media cetak dan TV pun sudah sering menayangkannya. Pornoaksi dan pornografi seakan menjadi harian Indonesia. Naudzubillahimindzalik.

 

Sebagai contoh, yang terdekat..

Teman dari salah satu pengisi materi ini mempunyai anak semata wayang. Suatu saat orang tua tersebut bermaksud mencarikan pengasuh untuk anaknya supaya anaknya tidak kesepian. Orang tua tersebut mencarikan pengasuh terbaik dari tempat terbaik. Apa yang terjadi beberapa bulan kemudian? Anak tersebut melakukan pelecehan seksual kepada temannya. Kenapa bisa begitu? Ternyata pengasuhnya yang melihatkan  video porno kepada anak tersebut, dan melakukan pelecehan seksual terhadapnya sehingga anak tersebut merasa ketagihan. Tahukah pengasuh tersebut dari mana? Pengasuh tersebut dari suatu pesantren , yang katanya adalah yang terbaik. Ironis banget.

 

Media televisi pun tak lepas dari penyebaran wabah ini. Beberapa iklan yang pengiklannya berpakaian minim. Sinetron dan film yang sering kali mempertontonkan adegan-adegan yang tidak seharusnya, seperti pelukan, ciuman, bahkan lebih dari itu. Tayangan video klip musik yang menampilkan adegan-adegan fulgar. Anak-anak seakan belajar bagaimana memperlakukan lawan jenis ataupun cara berpakaian. Hal itu seakan menjadi hal yang lumrah.

 

Terlebih media internet yang menyuguhkan beragam informasi menjadi ajang pertumbuhan dan penyebaran wabah pornografi. JUST ONE CLICK, kita bisa mendapatkan apa yang kita mau. Apa jadinya kalau internet ini digunakan oleh anak-anak tanpa diawasi? Wuih.. bisa dibayangkan, anak tersebut dapat mengakses apapun.

 

Sebuah kisah nyata(ini pernah diliput di tv), ada seorang anak yang masih kecil, dia biasanya suka ke warnet, bilang ke ayahnya untuk permainan, tapi tahukah apa yang dilihatnya …yap video porno… kapan ia melihatnya? Ia melihatnya ketika penjaganya tidak ada, ketika penjaga warnet mendekat, ia pun mengalihkannya kepada games.. wuih canggih ya anak sekarang… apa dampak dari kebiasaan anak ini? coba baca dulu kisah di bawah.

 

Sebuah kisah yang pernah diliput di kich andy, kisah tentang seseorang laki-laki yang masih muda belia. saya lupa tepatnya usianya berapa. Yang pasti  menjadi pelaku seks komersial. Ketika ditanya siapa saja yang menjadi pelanggannya, pemuda tersebut dengan ekspresi biasa saja menjawab laki-laki dan perempuan, bahkan anak remaja pun ada. Tahukah bagaimana masa kecilnya? Masa kecilnya ternyata seperti anak kecil yang diceritakan di atas sering menonton video porno. Tayangan tersebut perlahan memasuki alam bawah sadarnya dan terekam seakan tayangan tersebut hal biasa. Hal ini menyebabkan ia tidak canggung ataupun malu untuk menjawab sederetan pertanyaan yang diajukan tentang hal tersebut.

 

Bagaimana dengan games?

Whuaaa.. apalagi ini. Games telah menjadi konsumsi hampir seluruh anak-anak. Tahukah bagaimana kebanyakan games-games yang beredar? Banyak games yang isinya dibumbui dengan seks ataupun kekerasan. Misalnya games balapan, mungkin ada yang pernah main, di akhir balapan, untuk menampilkan skor, suka tampil animasi gambar wanita berpakaian seksi.  Yang sering main games pasti lebih tau.

 

Bagaimana dengan media cetak seperti buku, majalah dsb?

Media ini pun menjadi perkembangbiakan pornografi. Majalah games yang sering dibaca anak dan  komik-komik penuh dengan adegan-adegan fulgar. Anak-anak di bawah umur bisa mendapatkan komik ataupun buku yang mengandung gambar pornografi tersebut dengan mudah di tempat terjangkau. Sekali lagi ini terjadi di Indonesia.

Sekilas saya berpikir, di luar negri, terlebih negara liberalis, hal ini kayaknya lebih parah lagi… BUT

kenyataannya, di negara tersebut, penyimpanan buku-buku yang mengandung gambar pornografi ini disimpan di tempat yang tingginya lebih dari 120 cm (ini seingat saya). Intinya buku tersebut tidak boleh di bawah 120 cm. Jadi, anak-anak kecil tidak dapat menjangkaunya. Bahkan, buku-buku yang mengandung gambar porno ini dibungkus oleh plastik yang tidak tembus pandang.. kerenkan! Bandingkan dengan di Indonesia, anak-anak di bawah umur bisa menemukannya dengan mudah di tempat yang bisa ia jangkau.

 

Lalu di china (berdasarkan pengalaman pemateri yang pergi ke ghuang zou), tempat yang bisa mengakses internet dengan bebas adalah kedutaan, selebihnya  di tempat lain, you tube, blackberry, google, wikipedia diblokir.  Dengan kata lain, ga bisa diakses.

Di Indonesia, baru rencana pemblokiran layanan RIM Blackberry pun sudah menuai protes dari banyak pihak.

 

Ini adalah suatu keadaan dilematis. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, tapi betapa banyak kemaksiatan yang terjadi karena tidak mengamalkan nilai-nilai islam. Sebenarnya perang besar sedang terjadi di Indonesia, perang yang secara kasat mata tidak terlihat, tapi menyebabkan krisis akhlak masal.

 

Sebuah kisah unik di ceritakan oleh salah satu pemateri, zaman dulu, saat pemateri tersebut masuk smp, ada salah satu smp favorit yang beberapa siswa tertangkap melihat video porno, apa yang terjadi? Smp tersebut jatuh, dan menjadi aib sekabupaten. Sekarang????????? Zaman berubah, anak-anak bukan saja melihat tapi melakukannya.

Apa yang terjadi pada generasi muda saat ini dalam 10 atau 20 tahun kemudian? Lostgeneration or nextgeneration?

 

Orang tua sangat berperan di sini, terutama dalam pembentukan karakter seorang anak.

Apa itu karakter?

 

Karakter adalah keyakinan dan nilai-nilai yang terbentuk karena turunan dan lingkungan. Turunan itu meliputi temperamen, kecerdasan dan bakat. Lingkungan meliputi agama, masyarakat, budaya, teknologi, pola asuh ortu, sekolah dan teman.

 

Sebelum usia tujuh tahun,umumnya anak-anak menyerap apapun yang diperolehnya, baik atau buruk, tanpa menyaringnya lebih dahulu.(dalam pelatihan lain yang pernah saya ikuti, usia 0-5 tahun itu anak dalam kondisi hipnotis menyerap apapun tanpa menyaringnya, termasuk emosi ibunya).  Mulai usia tujuh tahun, anak cenderung mengikuti hawa nafsunya, apa yang ia senangi. Dalam rentang ini, kalau bahasa anak sekarang itu masa galau. Anak baru bisa memutuskan usia 15-16 tahun. Anak akan lebih bijak(matang) mengambil keputusan ketika ia menginjak 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Jadi, dalam kurun waktu 21 tahun(perempuan) dan 25 tahun (laki-laki), orang tua turut berperan membantu perkembangannya.

 

Sebuah kisah pribadi diceritakan pemateri tentang pendidikan seks yang dimulai kepada anaknya semenjak usia dua tahun, beliau menceritakan bahwa anaknya diberitahu tubuh anaknya sangat berharga jadi tidak boleh ada satu pun yang boleh memegang anaknya,terutama bagian ini dan ini,  beliau pun tidak boleh memegangnya kecuali sekedar membantunya jika belum mandiri,  bahkan jika anaknya tidak merasa perlu, maka anaknya tidak boleh memegang bagian tersebut. Apa yang tejadi ketika dewasa? Anak tersebut tetap menjaga nilai yang diajarkan ibunya. Pacarannya pun hanya bertahan 2 minggu, karena anak tersebut tidak mau dipegang.

 

Adapun kekeliruan yang biasa dilakukan orang tua dalam membentuk karakter anak

–          Tidak membaca bahasa tubuh

–          Tidak mendengar perasaan

–          Menggunakan 13 gaya tradisional

  1. Memerintah
  2. Mengancam
  3. Menceramahi
  4. Menginterogasi
  5. Mencap
  6. Membandingkan
  7. Menyalahkan
  8. Mendiagnosa
  9. Memberi solusi
  10. Mengalihkan
  11. Menghibur
  12. Menjamin
  13.  Membohongi

Anak yang terlalu dibebani atau terpuruk biasanya dia akan stress. Salah satu cirinya adalah “terserah ibu aja deh” kata-katanya. Akibatnya anak ini tidak percaya diri alias tidak pede, dia ga punya belief, tidak mampu menyerap nilai, engga mampu bilang tidak, engga mampu say no to drug, pornografi, kekerasan dsb. Ia cenderung tidak bisa melawan.

Karena itu , untuk membentuk karakter yang tangguh dari anak, orang tua harus mempunyai keimanan dan perilaku yang baik.

 

Pembentukan karakter ini sangat penting. Secara tidak langsung, pembentukan karakter ini berpengaruh terhadap output dari pendidikan. Saat ini, banyak anak yang secara akademik tinggi, tapi secara kepribadian rendah. Ya kita bisa lihat sendiri dari aksi-aksi yang dilakukan anak dari mulai tawuran, seks, narkoba, dsb. Menjadikan anak hanya pintar secara akademis atau keterampilan itu hanya menyiapkannya menjadi manajer rendah di masa depan. Sedangkan menjadikan anak pintar secara sosial dan emosi menyiapkannya menjadi manajer menengah di masa depan. Lain halnya, menjadikan anak pintar secara spiritual berarti menyiapkan anak tersebut menjadi CEO. Karena cerdas secara spiritual mendukung  cerdas secara akademis, sosial, dan emosi. The best way to predict the future is to create it.

Jadi, parenting adalah proses mendukung pengembangan kemampuan sosio-emotional, fisik dan spiritual.

 

Bagaimana cara mendukung pengembangan tersebut?

  1. Komunikasi (selalu bicarakan dengan anak, biarkan anak berbicara, kesepakatan)
  2. Struktur dan konsistensi- disiplin (adanya satu pendapat antara ayah dan ibu)
  3. Memaksimalkan pembentukan karakter penanaman nilai-nilai
  4. Pandu ke masa depan (biarkan anak memilih)

Untuk melaksanakannya, bukan hanya peran ibu, tapi juga peran bapak, 50-50. Masing-masing pihak harus saling memberikan hak untuk mengasuh anak dan dicintai anak-anaknya.

 

Bagaimana melaksanakannya?

  1. Sediakan waktu (tinggalkan pekerjaan ketika di rumah)
  2. Sebutan baik (sehingga anak merasa menempati posisi istimewa di hati kita)
  3. Pujian (lihat kelebihannya, abaikan kekurangannya)
  4. Nyatakan cinta

Ketika anak merasa penting, dihormati dan dihargai, maka ia akan merasa PD. Ia mampu belajar dan menjadi cerdas dan mampu mengatakan tidak.

Yang perlu diperhatikan sebagai orang tua adalah: BANGUN KEMANDIRIAN ANAK.

 

Bagaimana caranya?

Biarkan anak berpikir terhadap apa yang menjadi masalahnya, memilih pilihan-pilihannya dan mengambil keputusannya sendiri.

Selain itu, BUKA JALAN KE MASA DEPAN

Bagaimana caranya?

  1. Hargai keunikan anak
  2. Hobby asik dan berprestasi
  3. Tahan mulut
  4. Biarkan dia mencoba
  5. Bantu susun rencana
  6. Yakin (bahwa Allah menjadikan manusia untuk menjadi khalifah)

Materi tentang ini selesai.

 

Materi lainnya adalah tentang bagaimana menyuguhkan internet sehat bagi anak saat internet menjadi hal yang lumrah bagi anak hari ini?

 

Caranya adalah

1.  Ikut bergabung online saat anak-anak memakai internet

2.  Letakkan komputer di ruang publik, sehingga akses anak terhadap hal-hal yang tidak diinginkan menjadi sulit

3.  Pantau kegiatan anak-anak saat anak-anak bermain internet

4. Bicarakan dengan anak-anak tentang batasan-batasan yang wajib dipatuhinya

5. Jangan takut google

 

Lalu, bagaimana cara orang tua mengapresiasi anak? Caranya adalah

1. Tanggung jawab memilih kegiatan online

2.  Pemanfaatan sistem peringkat media

3.  Tertib dan jujur terhadap term of service

 

Untuk membatasi akses anak-anak terhadap hal-hal yang tidak diinginkan jika memasang internet di rumah, orang tua bisa memasang suatu sistem perangkat seperti nawala atau lainnya yang bisa menolak akses-akses tersebut ketika anak mencoba mengaksesnya.

 

Materi satu lagi adalah tentang bagaimana mengenalkan batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan.  Batasan ini baiknya diperkenalkan saat anak sudah kelas 5.

 

Materi selesai..mohon maaf bila ada salah informasi. Semoga bermanfaat.

 

Iklan

3 Tanggapan to "Materi Seminar Parenting ‘Pornografi, Sahabat Baru Anak?’"

selamat siang…thanks ataspemabahasannya…ada hal yang ingin saya tanyakan.. bagaiamana jika kita menjumpai anak yang mengalami pelecehan seksual dari salah satu anggota keluarganya, apa yang haruskita lakukan terhadap anak dan pelaku?..terima kasih ..:)

Terima kasih mba tulisannya ,sangat bermanfaat!

@semua, sama-sama, semoga bermanfaat
@untuk bu maya, jujur saya bukan psikolog, tapi menurut saya, anak dan pelakunya harus diajak bicara secara individual dahulu mengenai hal tersebut, ada treatment penanaman nilai baik khususnya pada anak, anak mesti ada yang mengontrol.. sebelumnya harus ada kesepakatan antara keluarga sekitar anak dan pelaku..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: