Kita dan ..

Arsip untuk kategori ‘Kita dan Dunia Anak

Anak-anak adalah sebuah aset yang harus dididik dengan cara yang cerdas sehingga ia bisa menjadi manusia seutuhnya kelak.  Berikut merupakan tips-tips dalam mendidik anak:

1. Tidak boleh diajarkan kambing hitam

Contoh kasus, Ari  merasa sakit karena kejeduk pintu.  Sang ibu pun berkata “Pintunya nakal y udah buat kepalanya Ari sakit” . Sang ibu pun memukul pintu di depan sang anak. “Tuh pintunya sudah ibu pukul, udah ya Ari berhenti nangis”.  Hal ini secara tidak sadar sudah mengajarkan anak untuk mencari hal yang bisa disalahkan atas kesalahannya sendiri.

Kasus seperti itu kalau berulang terus, nanti  akan terekam dalam alam bawah sadarnya. Jadi, ketika sang anak mempunyai masalah, ia akan cenderung mencari kambing hitam.

2. Jangan diajarkan rasa sakit

Alkisah, ada anak yang jatuh. Anaknya tidak nangis ketika jatuh. Hanya ketika orang tuanya melihat dengan histeris sambil berkata “Jatuh? Sakit?” Sang anak pun menangis akhirnya. Orang tua seharusnya bersikap tenang, sehingga psikologis anak pun tenang.

3. Berikan apresiasi atau bujuk dengan  kata maaf

Misalnya ada anak usia 5tahunan yang naik ke atas pagar yang tinggi. Apa yang sebaiknya dilakukan? Ada beberapa cara. Pertama bilang “Wah anak ibu keren,  kamu sudah naik ke atas dengan  baik, coba sekarang ibu ingin lihat kamu turun dengan baik juga”. Kira-kira sang anak akan turun?  Yup. Jadi bukan dengan bentakan atau ekspresi marah. Seorang anak butuh apresiasi atas apa yang dilakukannya. Cara lainnya, bisa dengan bujukan kata maaf  atau hal yang disukainya.

4. Ajarkan mana mainan dan mana bukan mainan

Seorang anak dari balita sudah sebaiknya diajarkan mana mainan dan mana yang bukan mainan. Balita pun sudah bisa berpikir ketika orang tuanya berekspresi mengatakan sesuatu.

5. Contohkah hal yang baik.

Hal yang saya rasakan saat mengajar anak-anak, karakter anak-anak itu sangat mirip orang tuanya, bukan hanya fisiknya. Perilaku orang tua sangat menentukan perilaku sang anak. Jika ingin anak yang sholeh, cara paling cepat adalah jadilah orang tua soleh. Karena anak-anak itu betul-betul memfotokopy perilaku orang terdekatnya.

6. Katakan hal yang benar tentang sesuatu.

Contoh kasus, ketika sang anak sakit, anak tidak mau minum obat. Lalu, sang orang tua pun membujuk anak dengan mengatakan obat itu manis padahal rasanya pahit. Hal itu tidak lain telah mengajarkan anak untuk berbohong. Ataupun contoh lain, sang orang tua berjanji menjemput dari sekolah pukul 2, tapi setelah ditunggu jam 2, sang anak tidak melihat prang tuanya menjemput jam 2, tapi jam 3. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus, hal ini akan terekam dalam alam bawah sadarnya.

 

-hasil tangkepan pikiran saat pelatihan tarbiyatun nikah minggu-minggu sebelum diterbitkan, daarut tauhid-

 

Mengajar anak SMA, saya merasa  bagian dari mereka.

Mengajar anak SMP, saya pun merasa bagian dari mereka.

Begitupun, mengajar anak SD, saya merasa bagian dari mereka.

 

“Bagian dari mereka.” Ini penting bagi pendidik. Ini seperti kunci untuk memasuki dunia mereka. Dunia orang dewasa tentu berbeda dengan dunia anak-anak. Orang dewasa sudah pernah menjadi mereka, anak-anak. Sebaliknya, anak-anak belum pernah menjadi orang dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa lah yang harus memasuki dunia anak-anak terlebih dahulu.

Masih ingatkah dengan jargon ini..?

Bawalah dunia mereka ke dunia kita

Antarkan dunia kita ke dunia mereka

Yap. Ini jargon yang biasa ada di pelatihan guru. Saya baru benar-benar mengerti kata-kata ini ketika saya mengajar. Pengalaman memang adalah guru yang paling berharga.

Untuk memasuki dunia anak-anak, caranya mudah. Hanya perhatikan saja bagaimana mereka bersikap dan ikuti permainan mereka. Bahasa ilmiahnya samakan frekuensi antara orang dewasa dan anak-anak.

Anak main, ikut main. Anak diam, ikut diam, begitulah ilustrasinya.

Ada satu kisah yang masih saya  ingat ketika pelatihan guru.

Ada seorang anak yang sudah tidak bicara begitu lamanya. Pada akhirnya, anak itu dibawa kepada seseorang yang ahli agar anak itu mau bicara. Ketika anak itu sudah sampai pada orang ahli tersebut, sang ahli hanya memperhatikan sang anak, tidak berbicara sepatah katapun. Begitu lamanya, keadaan hening. Lalu apa yang terjadi? Anak itu berkata, “kok bapak tidak bicara”. Nah, akhirnya sang anak mau berbicara bukan..

Saya baru sadar ketika saya mendapat cerita tersebut.

Saya ingat ketika saya bisa nyambung dengan beberapa kelas SMP/SMA yang saya pernah saya pegang karena saya pun ikut dalam ritme mereka. Seperti halnya, Ikut mendengar curhatan mereka yang galau-galau. Ikut mendalami dunia mereka. Saya pun pernah tidak nyambung dengan beberapa kelas yang pernah saya pegang. Itu karena saya tidak ikut ritme mereka.

Kali ini, saya mengajar SD. Tentu saya harus ikut dalam ritme mereka juga jika ingin nyambung dengan mereka. Saya baru sadar kenapa waktu anak-anak lagi main, terus tiba-tiba saya suruh untuk melakukan suatu kegiatan, mereka menolak. Itu karena saya tidak sejalan dengan mereka. Karena itu, pada waktu yang lain, saya ikuti dulu ritme mereka, baru menyuruh untuk melakukan suatu kegiatan. Seperti halnya ketika anak-anak perempuan lagi main buaya-buayaan, saya langsung menjelma menjadi buaya, karena saya tidak mau berlama-lama bermain,heu..  saya pun langsung mengajak mereka solat. Atau bermain tembak-tembakkan dengan salah seorang murid saya. Kami memakai meja sebagai benteng pertahanan. Begitu keluar dari meja langsung menembak. Peraturannya kalau murid saya menang, dia harus solat. Untuk segera menuntaskan permainan, dengan tembakan yang sedikit, saya langsung pura-pura mati. Eh dia malah bilang licik. Heu . Mengobrol tentang hantu atau monster atau film dengan anak-anak. Obrolan yang imajinatif seperti itu terasa sangat menarik untuk mereka. Ketika mengobrol dengan anak-anak usia sd kelas 2 ini, saya lebih sering menjadi pendengar dan penanggap. Sampai-sampai saya pusing dengan banyaknya anak yang ingin bercerita.  Walaupun begitu, mengobrol dapat membuat jalinan yang dekat antara guru dan siswa. Di awal-awal, anak-anak sering berbicara tentang angry bird. Saya kira angry bird itu film, ternyata bukan, itu adalah game. Haduhh.. ga apdet bangett dech saya! Saya pun segera mencari game itu dan memainkannya. Jadi kalau anak-anak ngomongin itu, saya gak mudeng. Ngomong-ngomong soal game, mereka pun sering berbicara tentang plants vs zombi. Kalau ini saya sudah pernah memainkannya sampai tamat ketika lagi stress-stressnya ngerjain skripsi. Heu. Jadi, waktu anak-anak ngomongin ini, saya bisa dengan lancar menanggapinya.  Kadang-kadang, kami pun bermain teka-teki. Walaupun begitu, ada satu hal yang tidak bisa saya ikuti yaitu bermain bola. Mereka kan larinya cepat-cepat, yang ada malu-maluin saya.. ha.. ha.. ha.. Semakin sering bergaul dengan mereka, saya pun serasa anak-anak yang baru belajar seperti mereka. Saya turut merasakan dunia anak-anak kecil seusia mereka yang ekspresif dan indah tanpa beban. Ketika saya melihat tingkah mereka yang lucu-lucu, seperti memutar kaset kenangan zaman kecil.

Mengajar anak-anak itu menyenangkan. Ada saatnya seorang guru harus menempatkan diri sebagai murid yang diajarnya, ada saatnya juga bertindak sebagai orang dewasa..

Inilah maksud dari surat:

Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S Taubah: 128)

 

-End-

Catatan iseng di malam kamis dan berlanjut di sabtu sore. (catatan lama yang baru dipublish)

 

 

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.